Festival Tet di Vietnam: Road Trip Hanoi – Hai Duong – Hai Phong

“Brrrr…” Noi Bai Airport pagi itu terasa lebih dingin dari yang sebelum-sebelumnya. Kalo biasanya suhu udara di bandara Hanoi ini hampir sama dengan di Indonesia, kali ini jauh lebih dingin. Bukan hal yang aneh sih karena di pertengahan Februari, Hanoi yang berada di Vietnam bagian utara ini masih kena imbas musim dingin dari daratan China. Parahnya, kali ini saya salah kostum. Cuma pakai flanel dan celana jeans, serta beberapa kaos di dalam ransel.

Setelah menukar beberapa lembar dolar dengan segepok Dong dan mengisi ulang sim card Vietnam yang tiga bulan sebelumnya juga saya pakai selama nge-guide trip Hanoi, saya meluncur ke pusat kota Hanoi dengan bis kota nomor 17. Harga tiketnya pun masih sama, cuman 9000 VND atau sekitar lima ribu rupiah.

Cuaca dingin dan berkabut tampak di sepanjang jalan dari bandara ke pusat kota Hanoi. Hampir semua orang lokal memakai jaket tebal bahkan sarung tangan. Kadang, mereka justru terlihat aneh ke arah saya yang cuma pakai flanel. Ketika saya lihat di aplikasi weather handphone, memang suhu lokal sekitar 10 derajat.

Xin cho! Landing di Noi Bai lagi untuk backpacking seminggu di Vietnam utara

Begitu bis berhenti di Long Bien -terminal paling dekat dengan Old Quarter, saya langsung berjalan ke Dong Xuan Market untuk mencari jaket, sarung tangan, dan kaos lengan panjang. Gilak dingin banget! Di sepanjang jalan telihat banyak penjual bunga persik dan plum, atau peach flower. Bunga ini adalah simbol perayaan Tet di Vietnam, atau kita menyebutnya Tahun Baru China.

Lihat juga: Galeri foto Tet Holiday, When Spring is All Around in Hanoi

Dong Xuan Market adalah pasar grosir yang terkenal di ibukota Vietnam. Letaknya sekitar 30 menit jalan kaki dari Danau Hoan Kiem. Karena masih suasana musim dingin, tak heran di sepanjang jalan dan sekitar pasar banyak pedagang pakaian hangat dan aksesoris Tet. Setelah memilih salah satu, saya bergegas ke penginapan di May De Ville Backpacker Hostel di dekat Jalan Hang Bac, Old Quarter.

Suasana pertokoan di jalanan kota Hai Duong
Menu pertama di Hai Duong, semacam Bun Rieu dengan jerohan babi

Dinginnya udara Hanoi tak menyurutkan warga lokal untuk memeriahkan Lunar New Year atau Tet Holiday. Di sekitar Hoan Kiem Lake lampu dan lampion warna-warni membuat suasana makin semarak. Mendekati jam pergantian tahun, langit di sekitar danau dipenuhi kembang api. Orang-orang saling mengucapkan Chúc mừng năm mới yang artinya Selamat tahun baru.

Keesokan harinya, saya checkout dari hotel dan melakukan perjalanan menuju kota kecil Hai Duong dengan sepeda motor yang saya pinjam dari Vu Thi, kawan di Hanoi yang bekerja sebagai resepsionis hotel. Hai Duong (baca: hai zeng) jaraknya sekitar 120 km atau tiga jam perjalanan dari Hanoi. Jalanan antar kota di Vietnam ini enak banget untuk road trip. Lurus dan lebar seperti jalan tol, dan gak ada macet.

Pedagang buah di pasar tradisional Hai Duong
Penjual daging babi, laris manis untuk bahan menu selama liburan Tet

Saya tiba di Hai Duong sekitar tengah hari dan langsung cari makan siang local food di sekitar Hai Duong Market. Pasar tradisional di kota ini jauh lebih tradisional dari Hanoi, dan pastinya lebih murah. Seporsi mie semacam pho dengan jerohan babi harganya cuma 15.000 VND atau tak sampai Rp 10 ribu.

Di Hai Duong, saya menginap di rumah keluarga rekan saya tadi. Rumahnya yang sederhana dengan halaman yang luas mengingatkan saya dengan rumah kakek di desa. Di sekitar rumahnya ada kebun sayur dan sebuah gubug untuk memelihara ayam dan angsa.

Keluarga baru di Hai Duong sederhana dan akrab

Bagi orang Vietnam, Lunar New Year atau Tet Holiday adalah waktu berkumpul bersama keluarga, berkunjung ke rumah sanak saudara, dan tentu saja makan bersama. Keluarga Vu Thi sangat ramah dan memperlakukan saya seperti keluarga mereka sendiri. Saya diajak berkunjung ke rumah kerabat di sekitar desa, menyusuri jalanan desa, persawahan, dan perkebunan.

Mot, hai, ba, zo! Cheers secangkir wine setiap kali makan bersama
Di ladang jeruk pedesaan Hai Duong

Selama liburan Tet, makanan sangat melimpah. Tak hanya memotong beberapa ekor ayam dan angsa, keluarga Vu Thi juga membeli banyak sayuran, buah, dan beberapa kilo daging babi untuk sajian selama Tet. Satu lagi, orang Vietnam juga tekenal suka minum. Bertumpuk kaleng bir ada di hampir setiap rumah saat Tet. Belum lagi wine khas Vietnm yang di dalamnya terdapat biji buah-buahan.

Saya juga diajak membuat Banh Chung, kue tradisional Vietnam yang disajikan hanya pada saat tahun baru Tet. Kue ini sepintas seperti ketupat, tapi tidak dibungkus dengan janur, melainkan daun tanaman yang banyak tumbuh di pinggiran sungai. Di dalamnya bungkusan ini diisi beras, gula merah, adonan bumbu, dan daging babi. Cara masaknya pun sama, yaitu dengan dikukus. Kue Banh Chung ini dimakan bersama-sama dengan menu yang lain, biasanya untuk makan malam.

Bikin Ban Chung, kue tradisional Vietnam tiap perayaan Tet
Ban Chung sebelum dikukus, mirip ketupat berukuran besar

Keluarga Vu Thi tak hanya berdomisili di Hai Duong, tapi juga Hai Phong. Pada hari ketiga, saya melakukan perjalanan dengan sepeda motor dari Hai Duong ke Hai Phong, jaraknya sekitar 75 kilometer atau kurang lebih 2 jam. Meskipun bukan kota utama di Vietnam utara, jalanan antar kota ini sangat mulus dan rata, hampir sama dengan jalan tol di negara kita.

Di depan pagoda keluarga di pedesaan Hai Duong
Tak hanya berkunjung ke keluarga, orang Vietnam juga berdoa di pagoda tiap perayaan Tet

Hai Phong adalah kota di bagian timur yang cukup dekat dengan Ha Long. Selama dua hari di Hai Phong, saya ikut berkunjung ke rumah beberapa saudara rekan saya tadi dan mengunjungi Yen Tu Pagoda. Pagoda ini terletak di puncak Gunung Yen Tu di kawasan Pegunungan Don Trieu, wilayah Uong Bi, provinsi Quang Ninh. Untuk menuju pagoda ini, kita harus jalan menanjak alias trekking sekitar tiga jam. Kalo kamu tak ingin terlalu capek, di lokasi ini juga sudah disediakan fasilitas kereta gantung.

Setiap tahunnya pada perayaan Tet, ribuan orang menuju pagoda ini untuk berdoa. Saya cukup menikmati perjalanan ini meskipun nafas ngos-ngosan di tengah udara dingin yang menusuk badan. Karena berada di puncak gunung dengan ketinggian 1.068 di atas permukaan laut, Yen Tu merupakan pagoda tertinggi di Vietnam dengan pemandangan keren di sekelilingnya. Konon saat cuaca cerah, dari puncak pagoda ini kamu bisa melihat pemandangan Halong Bay dan sungah Bach Dang.

Gerbang utama menuju Yen Tu Pagoda di Provinsi Quang Ninh
Bangunan pagoda yang masih sangat sederhana di perbukitan Yen Tu
Patung Buddha yang lokasinya tak jauh dari puncak Pagoda Yen Tu

Sebelum kembali ke Hanoi, saya menuju Trang An. Ini adalah road trip paling panjang dengan sepeda motor di Vietnam, sekitar 250 km dengan lama perjalanan sekitar lima jam. Tujuan utama di Trang An ini tak lain adalah Trang An Scenic Landscape Complex, berupa sungai-sungai dan danau yang mengelilingi perbukitan karst dengan pemandangan yang indah. Kompleks wisata Trang An ini punya nilai sejarah tinggi karena merupakan bekas ibu kota Vietnam kuno pada abad ke-10 dan 11 yang berlokasi di Hoa Lu. Di kawasan ini juga masih bisa ditemui sisa-sisa kuil dan bekas bangunan pada masa lampau.

Menikmati pemandangan sisa musim dingin di Trang An

Bagi orang Vietnam, Trang An Landscape Complex merupakan simbol dan sejarah kebudayaan. Trang An merupakan satu dari 8 situs warisan dunia di Vietnam yang diakui UNESCO. Tujuh situs warisan dunia lainnya adalah Halong Bay di Quang Ninh, Phong Nha-Ke Bang National Park di Quang Binh, Kompleks Monuen Hue di Thua Thien-Hue, Hoi An Ancient Town dan My Son Sanctuary di Quang Nam, Thang Long Imperial Citadel di Hanoi, dan Citadel Dinasti Ho di Thanh Hoa.

Komplek wisata Trang An terkenal juga sebagai UNESCO World Heritage
Di lokasi ini wisatawan bisa naik sampan mengelilingi danau, pagoda, dan perbukitan kapur Trang An

Backpacking di Vietnam selama liburan Tet memberi saya banyak pengalaman baru, membaur dengan tentang kultur dan budaya orang Vietnam. Buat mereka yang menginginkan kenyamanan, saya kurang merekomendasikan ke Vietnam pada saat Tet. Selain karena cuaca yang masih dingin dan berkabut, hampir semua orang berlibur atau mudik, transportasi penuh, dan banyak toko atau restoran yang tutup, hampir sama dengan kondisi kita pada saat Lebaran.

Tapi kalau ingin membaur dengan orang Vietnam, Tet adalah pilihan waktu terbaik karena ini adalah perayaan paling penting bagi orang Vietnam. Bagi mereka, Tet bukan cuma sekedar momen pergantian tahun, tetapi juga berkumpul dengan keluarga yang selama ini terpisah karena pekerjaan atau rutinitas sehari-hari.

Chúc mừng năm mới, toàn gia bình an! Selamat tahun baru!

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *