Di kota negara bagian West Bengal yang berbatasan dengan Bangladesh inilah perjalanan saya di India bermula.

Kalkuta. Kota di timur laut India ini mungkin belum familier untuk kebanyakan traveler Indonesia. Sebenarnya Kalkuta (dalam bahasa Inggris: Kolkata) bukan tujuan utama saya backpacking ke India. Traveler umumnya lebih memilih kota-kota besar dan tujuan wisata seperti New Delhi, Mumbai, Jaipur, dan Agra.

Karena saya lebih suka traveling yang no fixed plan dan menentukan rute trip berdasarkan harga tiket atau akomodasi paling murah, pilihan pun jatuh ke Kalkuta. Ini berawal dari promo AirAsia rute Malaysia – India PP (Kuala Lumpur – Kalkuta, New Delhi – Kuala Lumpur) yang harganya kalo dalam rupiah sekitar sejuta saja.

Rute perjalanan dari Kalkuta ke Agra

Lewat jam 1 tengah malam saya landing di bandara Kalkuta, Netaji Subhas Chandra Bose International Airport. Setelah cukup lama antri imigrasi, saya keluar ke area kedatangan. FYI, paspor Indonesia harus pakai e-visa untuk masuk India. Baca cara bikin e-visa India di sini. Kembali ke bandara Kalkuta, karena udah larut dan memang belum booking penginapan, saya pun tidur bandara. Jangan harap kondisinya senyaman Changi. Di sini cuma ada beberapa kursi aluminium dan lantai yang dingin, tapi lumayan bersih. Tapi karena udah biasa tidur bandara, kondisi kayak gimana pun, asal nyaman, tetep bisa buat rebahan sampai pagi.

Antrian taksi di depan bandara Kalkuta

Suasana bandara perlahan mulai rame begitu pagi datang. Kios-kios dan cafe mulai buka. Suara klakson mobil dan taksi bergantian dari area penjemputan di luar terminal. Setelah beli secangkir teh dan kue kering seharga 70 Rupee, saya berjalan menuju pemberhentian bis kota tujuan stasiun kereta api Kalkuta. Perlu waktu sekitar 40 menit dari bandara ke stasiun. Suasana ruwetnya jalanan Kalkuta terlihat jelas dari dalam bis. Kondisi bisnya sendiri sih semacam Kopaja atau Metromini di Jakarta. Panas dan pengap tanpa AC. Kuat-kuatin deh pokoknya.

Makan siang Nasi Briyani di dekat stasiun Kalkuta

Setelah sampai di pemberhentian stasiun, saya masih harus menyeberang lewat underpass. Ramai, padat, dan kumuhnya orang-orang di sini bener-bener gila. Ribuan orang dengan perawakan yang hampir sama lalu lalang di hadapan saya. Setelah tanya sana-sini, akhirnya saya menuju lokasi penjualan tiket kereta. Di India, tiket kereta sebenernya bisa dipesan online, tapi kalo gak punya akses internet, apa yang bisa kamu lakukan selain antri panjang berjam-jam. Mayoritas pembeli tiket di loket di stasiun Kalkuta adalah orang-orang Bangladesh yang kerja di kota ini. Hanya ada beberapa wisatawan asing, termasuk saya. Setelah menunggu hampir 2 jam (iya, DUA JAM) akhirnya saya dapat selembar tiket Kereta Api Howrah Junction Jodhpur Junction Express jurusan Agra yang berangkat jam 11 malam.

“Cafe” seperti inilah yang ada di stasiun Kalkuta

Untuk warga asing, beli sim-card di India memang cukup susah. Kamu harus menunjukkan paspor asli dan nomor telepon saudara/teman/kenalan kamu di India. Nah loh, gimana donk kalo baru pertama kali ke India, mau kenal sama siapa? Shah Rukh Khan? Atau artis-artis India yang sering tampil di Pesbukers?

Suasana di pinggir platform kereta api pada siang hari

Karena jam berangkat kereta masih lama, saya pun membunuh waktu dengan jalan-jalan di sekitar stasiun. Saya berusaha beradaptasi dengan kondisi di Kalkuta. Kesenjangan sosial di kota ini terlihat cukup jelas. Jauh beda dengan film-film India yang tayang di televisi kita. Orang-orang seperti gelandangan tidur begitu saja di depan-depan rumah, toko, gedung perkantoran, dan convenience store. Mereka ini bukan gelandangan, tapi memang golongan kasta rendah. Bagi yang belum terbiasa melihat kondisi ini pasti terasa shock culture, tidak hanya di Kalkuta, tetapi juga kota-kota lain di India. Dan masih banyak lagi hal-hal aneh lainnya, mulai dari kebersihan, makanan, lingkungan, samapi -maaf- orang buang air besar di pinggir jalan dan rel kereta!

Kembali ke stasiun, saya standby di platform kereta sekitar jam 10 malam. Antrian makin panjang saat gerbong-gerbong kereta datang. Di India, manifest atau daftar penumpang ditempel di tiap gerbong, jadi kamu gak perlu khawatir gak dapat tempat duduk -lebih tepatnya tempat tidur karena saya pesan sleeper train kelas bisnis. Kondisi gerbongnya seperti kereta ekonomi di kita. Kursinya bisa dilipat seperti tempat tidur dua tumpuk. Jadi dalam satu sekat bisa diisi empat orang. Tidak ada colokan listrik di kereta, tidak seperti di kita yang ada colokan di tiap sekat tempat duduk.

Papan penunjuk jam keberangkatan kereta

Manifes penumpang kereta, ada di tiap pintu gerbongPerjalanan kereta api dari Kalkuta ke Agra ditempuh dalam waktu 21 jam. Ya, DUA PULUH SATU JAM! Duduk, tidur, makan, minum, duduk, tidur lagi, duduk lagi, tidur lagi, sampai mati gaya selama 21 jam. Kereta ini berhenti di Agra Fort Train Station dan untuk melanjutkan perjalanan ke hostel di Agra, saya naik tuk-tuk dengan tarif 100 Rupee. Pintar-pintarlah bargaining selama di India. Lokasi hostel ini hanya berjarak sekitar 500 meter dari Taj Mahal, tempat paling populer di India.

Agra bukanlah kota besar seperti Bandung atau Surabaya. Kota ini sepertinya memang hidup karena Taj Mahal. Ribuan orang tiap hari datang ke destinasi di pinggir sungai Yamuna ini. Di Agra sendiri sebenarnya ada dua spot wisata lain yang tak kalah keren, yaitu benteng Agra Fort dan bangunan bersejarah Fatehpur Sikri.

Namaste, Taj Mahal!

Tips naik kereta di India

1. Travel in couple. Usahakan pergi minimal dua orang, terutama cewek. Safety issue masih menjadi common sense di India, bahkan di kota-kota besar seperti Mumbai dan New Delhi.

2. Booking online mulai dari Indonesia. Tapi kalau itinerary-mu fleksibel, kamu bisa booking tiket online saat udah di India. Caranya? Minta tolong resepsionis hostel untuk membantu booking. Dari pengalaman saya, hampir semua hostel di India akan dengan senang hati membantu kita booking tiket kereta api online. Beda dengan hotel yang biasanya tidak menyediakan fasilitas seperti ini.

3. Simple packing. Satu daypack dan satu backpack ukuran 40-50 L udah cukup untuk seminggu di India. Saya memang jarang -atau hampir tidak pernah- traveling pakai koper karena ribet saat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, termasuk saat naik transportasi umum seperti kereta api, MRT, dan subway.

4. Siapkan uang tunai Rupee. Tidak semua stasiun di India tersedia mesin ATM. Kalaupun ada, saya tidak menyarankan ambil uang tunai di tempat umum karena resiko keamanan.

5. Tetap waspada dan selalu perhatikan barang bawaan, terutama benda berharga seperti hp, dompet, dan paspor. Bawa ketiga barang itu di tas kecil yang selalu didekap atau dipegang, bahkan saat tidur di kereta.

6. Bawa bekal makanan atau cemilan seperlunya selama perjalanan di kereta karena berapa kawan dari Indonesia mengaku kurang cocok dengan masakan India, termasuk yang disajikan oleh resto di kereta api.

7. Jangan minum langsung dari air “drinking water” yang ada di tiap stasiun karena kebersihannya tidak terjaga. Kamu tidak mau kan kena diare atau penyakit lainnya. Juga, cek dua kali air minum kemasan yang dijual di toko, cek apakah kemasannya rusak atau tidak.

8. Senyum, ramah, dan bersikaplah biasa di tengah-tengah orang lokal. Wajah Asia seperti kita ini akan sangat mudah dikenali sebagai “turis asing”. Tapi dari pengalaman, orang India sebenarnya ramah dan mau diajak ngobrol ringan, terutama di kota besar dan kota wisata mereka cukup lancar berbahasa Inggris.

9. Minta tolong pada petugas atau sesama penumpang di dekat kita untuk mengingatkan apabila akan sampai di stasiun yang dituju.

10. Abaikan sopir tuk-tuk atau orang asing yang menawarkan pertolongan. Hal ini untuk mengantisipasi scamming yang sudah bukan hal baru di kota-kota besar dan tempat wisata di India.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: