Kesengsem Lasem, Foto Perjalanan Akhir Pekan di Tiongkok Kecil

Kesengsem Lasem (terpesona Lasem). Begitu kata beberapa teman yang turut menjejakkan kaki di Lasem, kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah dan masuk kawasan Kabupaten Rembang.

Tak berlebihan memang karena bagi mereka yang gemar wisata budaya, sejarah, dan fotografi, Lasem adalah destinasi yang tepat. Kota kecil ini identik dengan bangunan-bangunan kuno bergaya Tiongkok, Belanda, Jawa, dan Arab. Pembauran sosial budaya selama ratusan tahun di Lasem itu kini bisa kita rasakan langung sebagai wisata heritage sekaligus peninggalan tak ternilai bagi generasi muda bangsa.

Berikut sebagian potret Lasem yang saya abadikan dalam perjalanan bersama Vakansinesia, akhir Februari 2018.

Salah satu sudut Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage, tempat saya menginap selama di Lasem. Dinamakan rumah merah karena tembok bangunan yang dicat warna merah. Rumah bergaya Cina Hindia ini dimiliki oleh Rudy Hartono. Ia adalah seorang pengusaha yang membeli rumah ini dan merestorasi sehingga kini menjadi rumah merah.
Tembok berwarna merah, pintu tua yang terbuat dari kayu jati, dan hiasan lampion khas Tiongkok menjadi ciri khas Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage Lasem yang instagramable.
Salah satu pilihan fotogenik berkeliling Lasem adalah dengan naik sepeda onthel.
Kelenteng Cu Ang Kiong yang berada di Desa Dasun, Lasem. Di depan gapura terdapat dua patung singa berwarna emas bergaya Barat dan dua tokoh yang masing-masing membawa senjata dan seolah menjadi penjaga klenteng. Gapura ini didirikan atas prakarsa dari Kapitein Oei Ek Thay pada tahun 1922.
Ornamen khas Tiongkok menghiasi gapura, seperti dua buah naga (xing long) yang saling berhadapan dengan huo zhu, mutiara Buddha berbentuk bola api, di antara kedua naga tersebut. Pada balok pintu gerbang tersebut tertulis nama klenteng dalam aksara Tionghoa, sedangkan pada kedua kolomnya bertuliskan puji-pujian yang diperuntukkan bagi Mak Co atau Thian Siang Sing Bo, dewi utama yang dipuja di klenteng ini.
Wisata kuliner dulu guys! Kalo di Lasem, wajib dicoba nih, Lontong Tuyuhan.
Lontong Tuyuhan ini semacam lontong sayur yang disajikan dengan tempe dan ayam, bisa juga ditambahin lauk jerohan dan telor.
Kelenteng Poo An Bio di Lasem yang diperkirakan berdiri pada tahun 1740. Bangunaan kelenteng ini berada di sisi utara Sungai Kemendung yang pada jaman dulu menjadi urat nadi pelayaran, perdagangan, dan transportasi di Lasem.
Pada abad ke-17, permukiman orang Tionghoa yang semula berada di sekitar Sungai Lasem terus berkembang dan meluas ke selatan sampai Desa Karangturi. Kelenting ini berada tepat di sebelah utara Sungai Kemendung dan keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari komunitas Tionghoa di Lasem.
Salah satu sudut di dalam bangunan kelenteng Poo An Bio.
Salah satu yang unik dari kelenteng Poo An Bio ini adalah keberadaan gambar-gambar yang dilukis dengan mo pit, dan menggunakan tinta bak warna hitam. Lukisan tersebut menceriterakan Kisah Tiga Negeri yang terkenal dengan nama Sam Kok, yang tokohnya bernama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fe.
Klenteng Poo An Bio yang berada di sebelah utara Sungai Kemendung ini tidak bisa dipisahkan dari komunitas Tionghoa. Moyang orang Tionghoa yang merantau ke luar negeri selalu membawa patung Kong Tik Cun Ong. Mereka percaya Kong Tik Cun Ong adalah dewa yang melindungi orang yang sedang merantau.
Peran pemerintah dan pihak terkait turut berperan besar melestarikan Lasem sebagai salah satu pusat heritage di provinsi Jawa Tengah.
Ada tiga kelenteng tua yang bisa dikunjungi di Lasem, yaitu Kelenteng Cu Ang Kiong, Kelenteng Poo An Bio, dan Kelenteng Gie Yong Bio.
Proses pembuatan batik di Lasem, tepatnya di sentra batik Kidangmas. Kekuatan corak maupun warna batik Lasem ini tak bisa dipisahkan dengan kebudayaan Tionghoa, misalnya corak burung hong, ular naga, atau lok can atau gambar campuran naga, singa, dan burung hong dengan dominasi warna merah dan kuning.
Satu lagi ciri khas batik Lasem adalah warna merahnya yang sangat khas. Bagi perajin batik Lasem, warna merah ini dikenal dengan sebutan abang getih pitik (merah darah ayam).
Proses pewarnaan pada sentral produksi batik Kidangmas di Lasem. Batik Lasem yang bagus tidak akan luntur atau gampang pudar warnanya meski dicuci dengan deterjen sekalipun.
Batik Tiga Negeri di Lasem merupakan salah satu masterpiece dalam dunia pembatikan. Batik Tiga Negeri adalah sebuah motif yang menggambarkan perpaduan tiga budaya, yaitu Tioghoa, Belanda, dan Jawa, dengan tiga warna dominan yaitu merah, biru indigo, dan soga atau cokelat.
Bangunan pesantren yang terletak tepat di sebelah pesarean Mbah Nyai Ageng Maloko Caruban. Sejak dahulu Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri dengan banyak peninggalan pesantren-pesantren tua yang masih berdiri hingga sekarang.
Kuliner lain yang saya suka dari Lasem adalah sup iga sapi yang super pedas. Meskipun proses nyesepin-nya agak ribet, tapi menu ini wajib kamu coba kalo mampir Lasem.
Salah satu bangunan yang menarik di dekat Pesantren Kauman Lasem, yaitu pos kamling yang berwarna merah dan kuning, dengan perpaduan unsur Tionghoa, Arab, dan Jawa yang sangat kental.
Lampion seperti ini banyak tergantung di berbagai sudut bangunan di Lasem, menjadi pemanis pemandangan dan foto bagi wisawatawan yang berkunjung ke Lasem.
Lasem yang sederhana dan apa adanya menjadi bukti indahnya perbedaan dan keragaman, sebagai warisan bangsa bagi generasi muda.
Berjalan atau naik sepeda ontel menyusuri lorong-lorong jalan Desa Karangturi di Lasem ibarat memasuki pusaran sejarah masa lalu. Puluhan pintu yang masih lengkap dengan nama pemilik rumah masih tertempel di kokohnya tembok setinggi tiga meter.

Tunggu apa lagi? Siapkan ransel dan kamera kamu untuk menjelajah keunikan Lasem, Tiongkok Kecil di Jawa Tengah.

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *