“Taksi mas, taksi. Sembalun. Rinjani.”

Beberapa orang langsung menghampiri dengan tawaran transportasi ke Gunung Rinjani, begitu saya melangkah dari pintu kedatangan Bandara Internasional Lombok. Mungkin mereka melihat backpack 45L yang saya gendong lengkap dengan gulungan matras dan trekking pool.

Trip kali ini memang agak beda. Kalo biasanya saya turun pesawat di bandara Lombok dengan menggendong ransel dengan nenteng fin dan snorkel, kali ini bawa peralatan nanjak gunung. Jadi ini ceritanya si anak pantai tiba-tiba lagi pengen nanjak gunung.

Rinjani adalah gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci dan masuk dalam daftar seven summits. Dari puncak Rinjani, kamu seperti berada di kaki langit yang luas tanpa batas. Terlihat pemandangan Gunung Batur, Gunung Agung, Gunung Tambora, serta tiga gili yang terkenal di Lombok: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Damri dari Bandara Lombok ke Selong, Terminal Pancor

Awal perjalanan menuju Rinjani, setelah landing Bandara Lombok saya langsung naik bis Damri jurusan Selong dan turun di terminal Pancor. Perjalanan dari bandara ke Pancor kurang lebih 2,5 jam. Hampir sama seperti dari bandara ke Senggigi, tapi dengan jalanan yang lebih sempit, padat, dan keramaian khas Lombok Tengah.

Sampai di terminal Pancor, saya menunggu rekan yang tinggal di Sembalun. Namanya Oddy. Pria yang usianya kurang lebih sama dengan saya ini -tapi sudah punya dua putra- ini dulunya berprofesi sebagai porter di Rinjani. Tapi sekarang Oddy lebih sibuk mengajar di Sekolah Dasar perintis di Sembalun dan saat senggang jadi tukang ojek di Pos 2 Rinjani.

Perjalanan naik motor menuju Sembalun

Kami berdua naik sepeda motor dari terminal Pancor ke Sembalun. Perjalanannya sekitar 2 jam, lewat jalur utama Mataram-Kayangan, kemudian belok ke utara menuju Sembalun. Di tengah jalan kami sempat berhenti sejenak, belanja buah-buahan untuk keluarga Oddy di rumah serta makan siang dengan menu khas Lombok: Bebalung dan Plecing Kangkung.

Sekitar jam 4 sore kami tiba di Sembalun, desa di kaki Gunung Rinjani. Saat memasuki kawasan Sembalun, banyak kebun stroberi di sepanjang kiri-kanan jalan. Penduduk setempat memanfaatkannya untuk wisata petik stroberi. Banyak juga yang jualan stroberi segar. Sebungkus kotak plastik harganya Rp 5000. Buah stroberinya besar-besar, empuk, manis, dan segerrr…

Icip stroberi segar di Sembalun

Kami berdua lalu menuju rumah Oddy. Rumahnya sederhana, bersih, dan lokasinya sangat strategis tepat di depan jalur masuk pendakian ke Rinjani. Saat saya tiba pun terlihat banyak bule-bule dan porter yang baru turun dari Rinjani.

Malam itu saya dijamu sepiring nasi putih dan sayur lodeh oleh keluarga Oddy. Menu sederhana yang terasa istimewa karena suasana akrab, meski kami baru pertama kali bertemu. Kami bercerita banyak tentang Lombok, tentang Sembalun, dan tentu saja tentang Gunung Rinjani.

Minggu pagi, saya dan Dani -adiknya Oddy yang nantinya menemani pendakian saya ke Rinjani- bergegas ke pos Taman Nasional Gunung Rinjani untuk melakukan registrasi pendaki. Setelah mengisi buku tamu, saya membayar RP 27.500 untuk tiket dan asuransi. Harga tersebut berlaku untuk akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Untuk wisatawan asing, ada perbedaan harga sekitar Rp 300.000 per orang.

Dari pos taman nasional, kami menuju pasar tradisional untuk belanja kebutuhan selama pendakian, khususnya bahan masak, sayur, buah pisang, gas refil untuk kompor, dan tak lupa juga cemilan pengisi perut selama pendakian nanti.

Setelah semua beres dan selesai packing, kami mulai trekking sekitar jam 9 pagi. Perjalanan dari rumah Oddy ke Pos 2 Rinjani -pos terakhir yang bisa dijangkau dengan sepeda motor- kurang lebih satu jam. Kami memilih jalan kaki karena ingin menikmati suasana perjalanan di sepanjang jalur trekking. Maklum, masih pagi, masih awal, dan masih semangat.

Kabut tebal menyapa di awal trekking, tapi selebihnya cuaca panas

Cuaca yang sangat terik membuat kami beberapa kali berhenti untuk sekedar ambil nafas panjang dan minum air putih. Jalur pendakian ini sebenarnya tidak terlalu berat dan curam. Hanya konsisten menanjak, kering, dan berdebu. Awal bulan September memang masih kemarau di Lombok, khususnya Rinjani.

Sekitar jam 12 siang kami tiba di Pos 3 dengan sebuah gazebo kecil yang terletak di atas aliran sungai yang mengering. Di tempat inilah kami menyantap makan siang menu nasi bungkus yang dibawa dari rumah Oddy tadi. Lumayan lah untuk menghemat gas kompor dan tak perlu mengeluarkan peralatan masak.

Pendakian dari Pos 3 Rinjani menuju Plawangan

Oke, setelah 30 menit istirahat dan isi perut, saatnya melanjutkan perjuangan. Masih sekitar 3 jam lagi untuk sampai Plawangan. Medan pendakian setelah Pos 3 ini memang lebih berat karena nanjaaaakkkk terus. Gak ada datar-datarnya! Beruntung tanjakan di sini masih alami berupa tanah dan bebatuan. Beda dengan jalur trekking Kinabalu yang sudah berupa anak tangga. Rasanya memang lebih ringan jalan di tanah daripada nanjak (dan turun) lewat anak tangga.

Sunset di Plawangan

Tapi se-ringan-ringan-nya Rinjani, tetep bikin kaos basah kuyup oleh keringat dan nafas ini ngos-ngosan. Di tanjakan-tanjakan akhir, pendaki akan melewati dua bukit yang diselimuti kabut. Pandangan terbatas, nafas lebih berat karena udara lembab dan tipis. Sekitar jam 4 sore akhirnya saya sampai di Plawangan. Lega rasanya setelah sampai di camp area ini. Setelah istirahat sejenak, kami mencari tempat untuk mendirikan tenda. Lokasi agak ke bagian selatan kami pilih karena lebih dekat dengan mata air .

Suasana pagi di Plawangan

Setelah tenda beres, saatnya masak. Menu pertama di Plawangan adalah mie rebus, nasi putih, dan sarden. Haha, template banget menunya. Kami masak di dalam tenda karena di luar anginnya lumayan kenceng. Setelah makan, kami mengisi waktu dengan main kartu sampai jam 11, sebelum istirahat untuk persiapan summit esok dini hari.

Deretan tenda para pendaki Rinjani di Plawangan

 

Sunrise yang terlihat dari Plawangan

Alarm jam 2 pagi membangunkan saya dari tidur di dalam tenda Lafuma beralas matras dan sleeping bag. Meski kondisi capek, susah tidur nyenyak di dalam tenda karena suara angin yang sangat kenceng. Wazzz wuzzz bikin tenda berasa mau terbang. Saat mengintip keluar tenda, terlihat cahaya lampu dari head lamp para pendaki yang sudah bergerak menuju puncak. Saya pun bersiap untuk summit. Tak lupa bekal sebotol teh manis bikinan sendiri serta sebungkus Oreo dan Silver Queen.

Saya melakukan pendakian ke puncak tanpa ditemani Dani yang memilih untuk jaga tenda. Tak masalah sih karena untuk summit kita tinggal mengikuti jalur yang ada dan cahaya lampu pendaki-pendaki lain yang juga menuju puncak. Normalnya, dari Plawangan ke puncak Rinjani perlu waktu sekitar tiga jam. Tapi jalurnya lumayan berat. Curam dan berpasir. Ditambah lagi musim kemarau yang bikin banyak debu. Pakai masker dan sarung tangan wajib hukumnya saat situasi seperti ini.

Dini hari itu begitu terang. Bulan hampir bulat sempurna. Sinarnya cukup untuk menerangi jalur pendakian ke puncak. Beberapa kali saya menoleh ke atas dan melihat bintang jatuh. Saat lewat jalur pendakian di atas Gunung Barujari -sering juga disebut Gunung Anak Rinjani- terlihat pijar lava yang sangat terang dari kawahnya. Sungguh sebuah pemandangan fenomena alam yang luar biasa.

Langit di sisi timur mulai terlihat jingga dan menguning. Lambat tapi pasti matahari mulai nongol. Tapi saat lihat ke depan, puncak masih jauh. Jam 6 pagi saya masih di bawah “punggungan”, jalur yang sering dianggap sebagai “jalur maut” bagi pendaki ke puncak Rinjani. Lebar jalur ini kira-kira hanya tiga sampai empat meter, kirinya jurang terjal ke gunung, di kanannya jurang ke kawah. Ngeri-ngeri serem. Ditambah lagi dengan angin pagi yang sangat-sangat kenceng. Untuk berdirri saja badan ini berasa mau diterbangkan angin ke arah kawah.

Panorama Danau Segarra Anak dan Gunung Barujari dari bawah Punggungan

 

Para pendaki di Puncak Rinjani

Saat menoleh ke belakang, saya tak lagi melihat banyak pendaki. Sepertinya tak sedikit di antara mereka yang kembali ke Plawangan. Saat itu pun saya sempat ragu dan berpikir untuk putar badan. Tapi ingatan saya tertuju pada kenangan mendaki ke puncak Gunung Kinabalu. Kalau saat itu saya bisa, kenapa di sini tidak? Di Kinabalu setiap pendaki dibatasi waktu. Di Rinjani, pendaki dibatasi oleh diri sendiri. Sepuluh langkah saya bergerak ke depan, lalu berdiri, berhenti, ambil nafas. Demikian seterusnya, sampai akhirnya saya tiba di puncak Rinjani, sujud syukur di ketinggaian 3.726 Mdpl.

3726 Mdpl, finally!

Naiknya setengah mati, turunnya bikin ngeri. Itulah jalur “punggungan” di puncak Rinjani. Tapi setidaknya saat turun dari puncak tak ada lagi angin kencang. Cuaca yang sangat cerah membuat pemandangan di sepanjang jalur turun begitu indah. Tampak dengan jelas Gunung Barujari dan Segara Anak, serta puncak Gunung Agung di Bali dari kejauhan.

Punggungan Rinjani, jalur menuju puncak

 

Pemandangan Danau Segara anak dari camp area Plawangan

Sekitar jam 10 pagi saya tiba kembali di Plawangan. Sangat lega rasanya kembali ke tenda, ngelurusin kaki, sambil meneguk sebotol air dingin. Beruntung, Dani udah masak nasi dan bikin mie rebus. Menu sederhana yang jadi begitu istimewa karena disantap usai menaklukkan Rinjani.

Travel Tips

1. Periode terbaik ke Rinjani adalah sekitar Juli sampai September, cuaca sangat cerah, tapi kondisi cukup kering dan berdebu, jadi siapkan masker, jaket windbreaker, dan kalau perlu pakai gaiter.
2. Untuk ke puncak Rinjani, kamu cuma perlu minimal dua hari satu malam (menginap di Plawangan). Tapi kalau mau turun ke Danau Segara Anak, biasanya perlu menginap lagi satu malam dan mendirikan tenda di sekitar danau.
3. Jalur Sembalun lebih bersahabat untuk pendaki pemula -seperti saya ini. Saat saya melakukan pendakian ini, jalur Senaru ditutup karena kebakaran hutan.
4. Sampah, sampah, dan sampah. Hmmm… sampah memang jadi tantangan besar untuk Rinjani. Mau sampai kapan geopark dunia ini jadi tempat sampah raksasa?

Estimasi Budget ke Rinjani

Tiket pesawat PP ke Lombok (dari Surabaya): RP 700.000
Biaya ojek/bensin PP Pancor ke Sembalun: RP 150.000
Bis Damri PP Pancor ke Bandara: RP 70.000
Homestay dua malam di Sembalun: RP 200.000
Tiket Taman Nasional: RP 27.500
Porter tiga hari: RP 750.000
Sewa tenda dan kompor: RP 150.000
Belanja kebutuhan makan, sayur, cemilan, air, gas, dll: RP 250.000
Lain-lain: RP 202.500
Estimasi biaya total: RP 2.500.000

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: