Menyeberang Rote di Batas Selatan Nusantara

Melakukan perjalanan ke pulau-pulau terluar di batas Nusantara selalu memberi kesan tersendiri, termasuk ke pulau paling selatan Indonesia: Rote dan pulau Ndana.

Pulau Rote mungkin lebih familier daripada Ndana. Kedua pulau ini masuk wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Ndana letaknya persis di selatan Rote, berjarak dua jam menyeberang dengan perahu motor sederhana. Pulau Ndana merupakan pulau paling selatan dari tujuh belas ribu lebih kelupauan negeri ini.

Perjalanan menuju batas selatan Indonesia ini saya bagi menjadi dua, karena masing-masing pulau memiliki keunikan dan cerita tersendiri.

Menyeberang dari Nembrala di pulau Rote menuju pulau Ndana

Pulau Rote

Anak jaman old mungkin masih ingat uang kertas lima ribu bergambar alat musik Sasando? Itulah salah satu simbol Pulau Rote. Untuk menuju pulau ini, rute paling mudah adalah lewat Kupang. Dari Bandara El Tari kini sudah ada penerbangan dua kali sehari Kupang – Rote pulang pergi, dengan waktu terbang cuma 20 menit. Alternatif lain, kita bisa naik kapal ferry dari Pelabuhan Kupang menuju Pelabuhan Ba’a di Pulau Rote dengan lama penyeberangan sekitar dua jam.

Setelah landing pagi di Bandara Saundale Rote, saya menempuh perjalanan darat kurang lebih dua jam menuju Nembrala. Kawasan di pantai selatan Rote ini paling banyak dikunjungi wisatawan, terutama bule-bule penggemar surfing karena terkenal dengan ombaknya. Tak heran, di kawasan ini juga banyak tersedia homestay dan penginapan pinggir pantai dengan harga mulai Rp 300 ribu per malam.

Jalan setapak di belakang homestay pinggir pantai Nembrala

Suasana di Nembrala tak seramai Bali atau Lombok, demikian pula warung atau cafe hanya ada hitungan jari saja. Tapi justru suasana tenang dan alami khas Nembrala inilah yang bikin traveler pencari suasana alami langsung jatuh cinta dengan kota kecil ini. Sepanjang pagi, siang, sore, dan malam yang terdengar hanya suara debur ombak, angin, dan kicau burung di pantai.

Untuk menuju spot-spot keren di pulau ini, idealnya kita perlu menghabiskan minimal tiga hari dan dua malam, karena Rote tak hanya laut dan pantai. Berikut beberapa tempat yang saya kunjungi di Rote -selain Nembrala tentunya, tempat menginap saya selama tiga malam di pulau ini.

Pantai Boa

Pantai ini jaraknya sekitar satu kilometer dari Nembrala, terkenal sebagai lokasi alternatif untuk surfing karena lantainya landai dan ombaknya besar. Turnamen surfing internasional juga kerap digelar di pantai ini. Selain ombak, di pantai Boa juga terdapat savana dan beberapa ekor kuda yang dibiarkan lepas, pemandangan yang sedikit mengingatkan saya pada pulau Sumba.

Kuda-kuda di savana tepi pantai Boa

Oeseli

Masih di kawasan pantai selatan Rote, Oeseli letaknya di sisi tenggara Bo’a, lebih dikenal dengan pantai berbatu karang rakasa sebagai spot foto dan lokasi menikmati sunset. Meskipun banyak rumah penduduk di Oeseli, tapi hanya sedikit penginapan atau homestay untuk wisatawan ti tempat ini. Wisatawan biasanya menginap di Nembrala dan Boa.

Oeseli dengan sejumlah batu karang raksasa di tepi pantai

Labirin Pantai Mulut Seribu

Wisatawan harus sewa perahu untuk menuju lokasi ini karena lokasinya berada di lepas pantai. Jangan khawatir, ada banyak persewaan perahu nelayan tradisional dengan tarif mulai Rp 100 ribu per orang. Seperti namanya, batuan karang yang banyak terdapat di tempat ini membentuk perisai seperti labirin. Kalau dilihat dari atas dengan drone, spot ini sering disebut sebagai “Raja Ampat-nya Rote”.

Monumen Tiang Bendera

Sebuah tiang bendera berdiri kokoh di atas batu karang di bagian selatan Pelabuhan Ba’a. Menurut cerita, tiang bendera ini didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1942. Saat air laut surut, wisatawan bisa mendekat ke batu karang letak tiang bendera. Lokasi ini juga kerap disebut sebagai Tanah Lot-nya Rote.

Sunset di pantai Nembrala

Desa Pengrajin Sasando

Seperti yang saya tulis di awal, ingat Rote pasti ingat Sasando, alat musik petik yang terbuat dari daun lontar. Wisatawan bisa berkunjung di desa pengrajin alat musik tradisional sekaligus simbol budaya Rote ini, jaraknya sekitar lima kilometer dari Pelabuhan Ba’a, searah menuju Monumen Tiang Bendera. Selain Sasando, ada juga Ti’ilangga, topi ala Sombrero khas Rote yang juga terbuat dari daun lontar.

Pohon-pohon bakau raksasa yang telah mengering di kawasan Rote timur

Hutan Bakau Landotie

Apa bedanya hutan bakau di sini dengan tempat lain? Pohon-pohon bakau di Rote ini ukurannya sangat besar dan tingginya sekitar 10 meter. Pohon-pohon bakau kering yang berdiri kokoh ini membentuk pemandangan unik yang instagramable. Lokasinya tepat di area masuk Pelabuhan Landotie, pelabuhan sederhana untuk menyeberang ke Pulau Landu, pulau kecil di seberang timur Rote.

Pemandangan dari puncak bukit Mando’o

Tangga 300 Bukit Mando’o

Setelah puas wisata laut dan pantai, saatnya menikmati keindahan pulau Rote dari ketinggian. Bukit Mando’o atau Tangga 300 adalah lokasi yang sangat populer untuk trekking ke salah satu puncak pulau Rote. Dari view point bukit ini terlihat hamparan laut, pantai, dan hutan bakau di bagian selatan pulau Rote. Iseng saya hitung jumlah anak tangga ke puncak, ternyata lebih dari 300, tepatnya berjumlah 488 anak tangga. Jadi, siapkan tenaga dan bawalah air minum saat mendaki Tangga 300 di Bukit Mando’o.

Di perjalanan menuju Bukit Mando’o, kita akan melewati desa penghasil gula lempeng, yaitu gula merah yang terbuat dari pohon lontar. Selain gula lempeng, desa ini juga terkenal sebagai penghasil tuak hasil fermentasi dari buah lontar.

Pulau Ndana

Orang mungkin banyak yang menyangkan bahwa pulau Rote adalah pulau paling selatan di Indonesia. Rote memang pulau berpenduduk dengan letak geografis paling selatan, tapi masih ada satu pulau lagi di selatan Rote, yaitu pulau Ndana. Pulau tanpa penduduk inilah yang menjadi batas darat Indonesia di bagian selatan.

Meski tanpa penduduk, bukan berarti tak ada kehidupan di pulau Ndana. Sebagai pulau paling selatan, pulau ini dijaga oleh sejumlah prajurit TNI. Mereka tinggal di barak tentara yang lokasinya tak jauh dari pantai selatan dan patung Jenderal Sudirman.

Markas TNI yang menjaga batas Nusantara di Pulau Ndana

Untuk menuju pulau Ndana ini kita bisa naik perahu motor dari Nembrala, Pantai Boa, atau Oseli, tergantung lokasi penginapan kita di Rote. Kebetulan saya menginap di Nembrala, kapal yang saya sewa berangkat dari pelabuhan ikan Nembrala. Penyeberangan menuju Ndana memakan waktu sekitar satu jam setengah sampai dua jam, tergantung kondisi angin dan ombak. Berangkatlah pagi dari Rote agar cukup waktu untuk menjelajah Ndana.

Landscape pulau Ndana yang panas, kering, dan gersang

Sekitar pukul 11.00, perahu saya merapat di Pulau Ndana. Hamparan pantai yang landai dengan pasir putih memanjang dan air laut jernih berwarna biru toska menyambut perahu yang datang di pulau ini. Dari kejauhan, tampak bendera merah putih di Pos TNI pulau Ndana.

Patung Jenderal Sudirman berdiri kokoh di daratan paling selatan Indonesia

Pulau yang luasnya kurang lebih 14 kilometer persegi ini memang hanya dihuni oleh penjaga perbatasan dari satuan Marinir AL dan TNI AD, tidak ada penduduk lokal yang menetap. Wisatawan yang datang ke Pulau Ndana harus mengisi buku tamu dan melaporkan kegiatan mereka ke pos jaga ini. Jangan khawatir, bapak-bapak TNI di sini sangat ramah, mereka juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari menjaga pulau terluar di bagian selatan Nusantara ini.

Sekitar satu kilometer dari pos jaga dan barak TNI, terlihat patung Jenderal Sudirman yang berdiri tegap dan kokoh di bagian selatan pulau. Monumen ini sebagai simbol penjaga perbatasan dan keutuhan NKRI. Padang rumput yang kering dan terik mewarnai perjalanan dari pos TNI menuju monumen Jenderal Sudirman di Pulau Ndana.

Selain pos jaga TNI dan monumen Jenderal Sudirman, wisatawan juga bisa menuju Danau Merah yang lokasinya berjarak sekitar lima kilometer ke tengah pulau. Untuk menuju danau ini, anggota TNI akan memandu wisatawan dengan menggunakan motor roda tiga. Kendaraan ini juga digunakan oleh anggota TNI untuk melakukan patroli rutin di pulau. Satu motor bisa memuat lima sampai enam orang.

Bunga “sakura” ala Rote yang mekar tiap menjelang akhir tahun

Setelah melewati jalanan yang berpasir, berbatu, dan semak belukar, akhirnya kami sampai di Danau Merah. Sesuai namanya, air payau di danau ini berwarna coklat kemerahan. Menurut legenda masyarakat Rote, warna merah di danau ini berasal dari darah korban perang pada masa kerajaan ratusan tahun lalu. Hiii serem juga ya…

Sekitar jam tiga sore, saya kembali menuju Pos TNI melalui jalur yang sama pada saat berangkat. Sepanjang jalan, tampak padang rumput dengan latar belakang lautan biru di bibir pantai Pulau Ndana. Tampak juga Pulau Penyu dan Pulau Rote dari kejauhan. Saya sengaja kembali sebelum terlalu sore karena menjelang petang ombak laut menuju Nembrala cukup besar.

Cara menuju Rote

Naik pesawat dari manapun kamu harus turun atau transit di Kupang, kemudian naik pesawat lanjutan ke Rote (Wings Air). Selain pesawat, bisa juga dengan naik kapal ferry dan kapal cepat Bahari Express dari Pelabuhan Kupang selama kurang lebih dua jam.

Gedung terminal di Bandara DC Saudale, Pulau Rote

 

Informasi penerbangan dari Kupang menuju Rote

Akomodasi di Rote

Ba’a merupakan wilayah paling ramai di Pulau Rote, karena ada pelabuhan dan bandara. Namun lokasinya agak jauh dari spot-spot wisata di pantai selatan Rote. Rekomendasi saya untuk menginap di Rote adalah di kawasan Nembrala dan Bo’a. Dua daerah ini terletak di pesisir dan banyak pilihan homestay atau penginapan pinggir pantai dengan harga mulai Rp 300 ribu per malam.

Suasana di sekitar homestay Nembrala, pantai selatan pulau Rote

Transportasi di Rote

Untuk explore spot-spot keren di Rote sebaiknya menggunakan sewa mobil atau motor. Setiap penginapan biasanya menyediakan jasa sewa mobil, motor, bahkan sewa perahu untuk menyeberang ke pulau Ndana. Perhatikan bahan bakar mobil atau motor sebelum berangkat karena -seingat saya- hanya ada satu pom bensin di Rote yaitu di dekat pelabuhan Ba’a. Sisanya, kita harus cari bensin di kios-kios penjual di pinggir jalan. Kondisi jalan di Rote sebagian besar sudah aspal dan nyaman, terutama jalur antar kota seperti dari Ba’a ke Nembrala.

Kondisi jalanan di sepanjang Pulau Rote

 

Penjual bensin eceran di dekat pelabuhan Ba’a, pulau Rote

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *