Pulau Sabu dan Kisah James Cook di Tengah Laut Sawu

Sebagai destinasi wisata di Nusa Tenggara Timur, Pulau Sabu mungkin masih kalah populer dari Pulau Sumba atau Labuan Bajo dengan Taman Nasional Komodo-nya. Tapi Pulau Sabu layak masuk bucketlist kamu di NTT.

Pulau Sabu dikenal juga dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk setempat menyebutnya Rai Hawu, yang berarti “Tanah Hawu” atau tanah asalnya orang Sabu. Menurut legenda, nenek moyang orang Sabu berasal dari Gujarat, India. Warga menyebutnya Hura.

Peta Pulau Sabu di Provinsi NTT

Letak pulau ini di tengah Laut Sawu, di antara Pulau Sumba, Pulau Timor (Kupang) dan Pulau Rote. Pulau ini masuk wilayah Kabupaten Sabu Raijua. Ada tiga pulau besar: Sabu, Raijua, dan Dana.

Kelabba Maja, destinasi utama di Pulau Sabu

Konon Pulau Sabu juga mendapat pengaruh dari Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 dan 15. Jejak Majapahit bisa dilihat dari nama desa Molie yang diambil dari bahasa Jawa “mulih” (pulang). Motif tenun lokal di Pulau Sabu juga ada yang bergambar seperti Pura, pengaruh Hindu dari Majapahit.

Kelabba Maja dengan latar belakang Laut Sawu

Pulau Sabu dan Kapten James Cook

Pada jaman dulu Pulau Sabu juga pernah menjadi tempat singgah penemu benua Australia, Kapten James Cook.

Kapten James Cook “terdampar” di Sabu pada tahun 1770 saat kapalnya, HM Bark Endeavour, kehabisan perbekalan. Ia lalu mendapat bantuan dari raja setempat dan bisa melanjutkan perjalanan ke Batavia.

Danau Lederaga di Pulau Sabu

Menuju Pulau Sabu

Cara paling cepat dan mudah -tapi tidak murah- menuju Pulau Sabu adalah naik pesawat dari Kupang atau Waingapu. Ada penerbangan dari Kupang dan Waingapu menuju Bandara Terdamu di Pulau Sabu, tapi rute ini belum dilayani maskapai konvensional, hanya ada Susi Air.

Warga lokal umumnya menggunakan Kapal Express Cantika untuk penyeberangan dari Kupang menuju Pulau Sabu selama 5-6 jam. Ada jadwal kapalnya tiap hari (tergantung cuaca). Harga tiketnya RP 260.000 untuk kelas VIP.

Pelabuhan Seba di Pulau Sabu
Susi Air terbang di atas Bandara Terdamu

Selain kapal express, ada juga kapal ferry Tungka yang berangkat tiap jam 9 malam. Harga tiketnya RP 250.000 dan lama penyeberangannya 10-11 jam. Semacam sleeper ferry karena semua tempat duduknya berupa kasur, lumayan buat tidur semalaman.

Kota Penting di Pulau Sabu

Kawasan paling ramai di pulau ini adalah kota Seba. Di sini ada Pelabuhan Seba dan Bandara Terdamu. Pasar tradisional dan beberap homestay sederhana juga ada di sekitar Pelabuhan Seba.

Apabila ingin berkeliling pulau, termasuk mengunjungi obyek wisata alam seperti Kelabba Maja, bisa sewa motor atau mobil dari penginapan di Pelabuhan Seba. Kondisi jalanan di pulau ini sebagian sudah aspal, sebagian masih jalan tanah dan batu.

Suasana di Pelabuhan Seba, Pulau Sabu

Jaringan telepon di pulau ini hanya ada sinyal Telkomsel. Sudah ada listrik 24 jam tapi tidak sampai ke daerah pedalaman dan pinggiran pulau. Untuk ATM ada di Pelabuhan Seba, tapi hanya ada BRI dan Bank NTT.

Untuk makanan, karena masyarakat pulau, mayoritas adalah seafood dan ikan bakar. Saat musimnya hasil ikan di pulau ini melimpah dan harga ikan relatif murah. Ada juga beberapa warung masakan Jawa, Padang, dan bakso di sekitar pasar dan Pelabuhan Seba.

Best Time to Visit

Periode terbaik berkunjung ke Pulau Sabu adalah bulan April sampai November. Hampir sama dengan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur, Pulau Sabu identik dengan iklim panas, musim kemarau panjang, dan curah hujan yang rendah.

Pantai Lederaga di sisi selatan Pulau Sabu

Dalam setahun, musim hujan di Pulau Sabu hanya berlangsung antara 15 sampai 70 hari. Jadi jangan heran apabila sejauh mata memandang di pulau ini didominasi pemandangan bukit-bukit kapur yang tandus dan kering.

Pulau Sabu yang letaknya di sebelah utara Australia juga dipengaruhi musim angin barat. Pada periode ini angin sangat kencang dan ombak laut tinggi, sehingga mengganggu aktivitas nelayan dan penyeberangan.

Sunset di Pelabuhan Seba

Lihat destinasi wisata Pulau Sabu di sini.

You may also like...

Popular Posts

Beri Komentar