Road Trip Flores: Dari Labuan Bajo Menuju Riung dan Aimere

Apa yang terlintas di ingatanmu saat dengar kata Flores? Mungkin Labuan Bajo, Pulau Komodo, Gili Lawa, Pulau Padar, Danau Kelimutu, atau Waerebo?

Sudah banyak tour dan open trip yang menawarkan paket liburan ke Taman Nasional Komodo, biasanya pakai istilah Sailing Trip atau Life On Board. Foto-fotonya pun hampir tiap hari berseliweran di timeline Instagram.

Dan awal September kemaren saya kembali ke Flores, bukan ke Pulau Komodo, tapi kali ini saya mengambil jalur anti mainstream. Jalur yang tidak banyak dilalui wisatawan di Flores.

Kita jumpa lagi, Labuan Bajo!

Rute yang saya ambil di road trip kali ini yaitu dari Labuan Bajo > Ruteng > Reo > Pota > Riung > Nagekeo > Aimere > Bajawa > Lembor > dan kembali ke Labuan Bajo.

Rute road trip Flores dengan jarak tempuh sekitar 650 km

Selama road trip Flores kali ini saya menggunakan motor Nmax dan ditemenin rider guide dari Flores Motorbike Tours yang udah punya banyak pengalaman road trip overland Flores, mulai dari Labuan Bajo sampai Ende, Maumere, Larantuka, Lembata, bahkan Pulau Solor dan Alor.

Kabar baiknya lagi, Flores Motorbike Tours juga bisa handle sailing trip Taman Nasional Komodo start dan finish di Labuan Bajo dengan kapal LOB sesuai budget. Kalo kamu minat bisa langsung cek di Instagram @floresmotorbike.

Sebelum ke Riung, berhenti sejenak di pinggiran Ruteng
Road trip Flores bareng Flores Motorbike Tour
Sungai dekat pelabuhan di pesisir utara Flores

Oke kembali ke rute road trip Flores. Setelah landing sore di Labuan Bajo, kami langsung tancap gas menuju Ruteng. Karena perjalanan malam, tidak banyak yang bisa dilihat di sepanjang jalan, apalagi di jalur Trans Flores ini juga masih minim lampu penerangan jalan. Tapi kondisi jalannya sudah diaspal mulus sehingga aman dan nyaman sepanjang jalan.

Penutupan jalan dari Reo menuju Pota
Menunggu jalan dibuka bareng pak Polisi dan warga sekitar

Kami tiba di Ruteng sekitar jam sepuluh malam. Suasana sepi dan dingin khas Ruteng langsung menyapa. Kami menginap di sebuah homestay sederhana, yang lebih mirip rumah kontrakan dengan tiga kamar. Saat kami masuk, dua kamar lainnya ditempati bule dari Perancis dan Belgia.

Keesokan paginya setelah sarapan dan check-out dari homestay, kami langsung melanjutkan perjalanan dari Ruteng menuju Riung. Pernah dengar istilah “Riung 17 Pulau” kan? Deretan pulau-pulau kecil di pantai utara Flores itulah yang menjadi tujuan kami berikutnya.

Perjalanan dari Ruteng ke Riung ini kami melalui jalur off the beaten track. Kalo orang-orang pada umumnya lewat Bajawa, kami lewat Reo dan Pota, jalur alternatif dengan sebagian kondisi jalan masih berupa tanah, batu, dan aspal rusak.

Salah satunya di ruas jalan sebelum masuk Reo, saat kami harus menunggu jalur buka-tutup karena ada pekerjaan alat berat di tebing pinggir jalan. Disitu kami menunggu hampir sejam bersama seorang Polisi jaga dan beberapa warga lokal yang juga akan menuju Reo.

Salah satu homestay tepi sawah di perjalanan menuju Riung
Warga lokal dengan ramah menyapa perjalanan kami menuju Riung

Meskipun lebih dari separuh kondisi jalannya masih rusak, tapi pemandangan dari jalur ini sangat worth it. Beberapa kali kami berhenti untuk ambil foto di jembatan, sungai, area persawahan, dan perbukitan tandus dan gersang khas Flores pasca kemarau panjang.

Kami sempat berhenti di Watu Pajung, sebuah pantai yang sepi pengunjung dengan garis pantai landai, rumput dan ilalang yang kering menguning, suasana yang sedikit banyak mengingatkan saya pada Gili Lawa.

Yang unik, di perjalanan menuju Watu Pajung ini kamu -kalo beruntung- bisa bertemu Komodo! Benar-benar Komodo. Sebuah bukti bahwa kadal raksasa purba ini memang tak hanya hidup di kepulauan Komodo, tetapi juga di dataran Flores, atau lebih tepatnya di Riung.

Area komodo di pantai Watu Pajung, tak jauh dari Riung
Berhenti sejenak di pantai Watu Pajung
Pantai Watu Pajung yang sepi, tenang, dan bersih seperti di Taman Nasional Komodo

Sekitar jam tiga sore kami akhirnya tiba di perbatasan Riung, dengan pemandangan lautan biru yang tenang dan pulau-pulau kecil sepanjang tepi jalan.

Sekilas pemandangan Riung 17 Pulau
Sejauh mata memandang hanya lautan biru dan pulau-pulau kecil di Riung

Dari spot foto Riung 17 Pulau ini kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan. Ada sebuah penginapan dan bar bernama Rico-rico Homestay. Lokasinya tepat di tepi pantai dengan kamar terapung di atas laut. Saat sore dan pagi, dermaga kayu di sebelah cottage jadi spot foto sunset dan sunrise yang cakep. Dengan menginap di cottage ini kami tak perlu jauh-jauh keliling tempat lain untuk menghabiskan waktu di Riung.

Golden sunrise dari dermaga Riung
Penginapan terapung di Riung
Dermaga samping penginapan di Riung

Keesokan harinya kami bertolak dari Riung menuju Aimere, melalui Nagekeo. Pemandangan di jalur ini tak kalah cakep dari Reo ke Riung sehari sebelumnya. Jalanan aspal yang lurus diantara lembah dan bukit-bukit tandus di kiri dan kanan. Sepintas mirip di Purukambera, Sumba Timur. Kami pun beberapa kali berhenti dan turun dari motor untuk foto dan selfie, karena memang pemandangannya sangat Instagramable.

Sepintas mirip Sumba, tapi ini di Nagekeo, Flores

Kami tiba di Nagekeo hampir tengah hari dan langsung heboh saat menemukan warung Jawa! Tau sendiri lah gimana rasanya beberapa hari membayangkan menu tempe penyet, nasi pecel, atau lalapan ala warung Lamongan di sini.

Di tengah perjalanan dari Nagekeo ke Aimere, kami berhenti di Bajawa, kota pegunungan yang terkenal dingin dan penghasil kopi paling populer di Flores. Kami singgah di Koperasi Famasa yang menampung hasil panen petani kopi di sekitar Bajawa untuk kemudian mengolah, mengemas, dan mendistribusikannya.

Anak milenial dan perkopian duniawi pasti udah tau dong gimana kualitas dan rasa kopi arabica Flores yang legendaris itu.

Koperasi Famasa yang menampung hasil petani kopi Bajawa
Pengeringan biji kopi Bajawa dengan teknologi UV

Tepat di sebelah gedung koperasi ini ada semacam desa sederhana yang mengingatkan saya pada Kampung Bena -yang juga ada di Bajawa. Beberapa anak kecil yang sedang bermain lantas menyapa saya, “Kakak, boleh foto!” dan kami pun berfoto dan berkeliling desa ini selama kurang lebih setengah jam.

Bangunan tradisional di Bajawa yang melambangkan perempuan
Di seberangnya ada beberapa bangunan yang melambangkan laki-laki dewasa
Anak-anak Bajawa di kampung Koperasi Famasa

Menjelang sore, kami langsung tancap gas menuju Aimere. Kota di pantai selatan Flores ini juga terkenal sebagai penghasil sopi -istilah lainnya moke, arak lokal khas Flores. Yang paling terkenal adalah BM, singkatan dari Bakar Menyala.

Selain itu ada Pinang Raci, sejenis sopi yang berwarna merah dan terbuat dari campuran sarang semut. Warga lokal mengkonsumsinya sebagai minuman kesehatan dan obat, konon bisa untuk menjaga kolesterol dan hipertensi.

Sunrise di pantai Aimere dengan latar belakang Gunung Inierie
Pedagang arak tradisional Pinang Raci khas Aimere

Dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, kami sempat berhenti di Lembor, daerah yang terkenal sebagai lumbung padinya Flores. Sepanjang mata memandang di kiri kanan jalan terbentang sawah dengan padi yang menghijau. Menurut cerita warga setempat, persawahan di sini bisa tiga kali panen dalam setahun! Kalo kamu ambil paket tour overland Flores dari Labuan Bajo yang menuju Waerebo atau Ende pasti melewati Lembor ini.

On the road kembali ke Labuan Bajo
Sawah yang membentang di sepanjang jalan Lembor

Tiba di Labuan Bajo menjelang senja, rasa lega bercampur lelah dan penat teraduk jadi satu dalam sunset khas dermaga Labuan Bajo.

Sunset Labuan Bajo yang menutup perjalanan road tri Flores

Langit jingga di ujung barat Flores menjadi penutup yang sempurna untuk memori perjalanan sepanjang road tripĀ  kali ini.

Memori tentang kehidupan sehari-hari warga lokal, perjuangan bertahan hidup, dan definisi bahagia yang begitu sederhana, sesederhana matahari terbit dan tenggelam di Labuan Bajo yang bikin saya tak pernah bosan untuk kembali ke Flores.

You may also like...

Popular Posts

2 Comments

  1. Gila sih perjalanannya, 650 KM dalam 4 hari.
    Kalo dilihat dari foto2nya, selai rute dari Ruteng ke Riung, aspal dan kondisi jalannya sudah bagus dan enak ya buat motor2an?
    view nya luar biasa bangeeet, kalo motoran gitu enak ya dikit2 kalo mau berhenti tinggal minggir, foto2,gak pake ribet

    1. Iya kak Aqied, 650 km itu based-on google map, kayaknya lebih sih krn bbrapa kali muter2 cari tempat dan spot2 foto yg cakep, demi konten hehehe…

      Iya selain arah Reo ke Riung, jalannya udah aspal semua, nggak secakep di Lombok sih, tapi udah worth-it lah utk road trip Flores chapter pertama ini.

Beri Komentar

%d bloggers like this: