Sabtu pagi di Kupang, saya menelepon “orang kapal” untuk menanyakan jadwal kapal express ke Pulau Sabu. Menurut info di brosur dan papan informasi, ada jadwal penyeberangan Kupang ke Sabu di hari Minggu. Saya pun menghubungi nomor hp yang ada di brosur tersebut. Dari empat nomor yang ada, hanya satu yang bisa tersambung. Saya pun berusaha memastikan jadwal kapal. “Oke pak, hari Minggu besok ada kapal ya? Berangkat jam 10 kan? Dari pelabuhan Tenau ya!”.

Keesokan paginya, saya sudah di pelabuhan jam 9 pagi, dengan asumsi tiket buka satu jam sebelum keberangkatan. Sepi. Tak ada antrian. Bahkan tak ada satu pun orang yang tampak seperti calon penumpang. Seorang pemuda menyapa saya, “Cari siapa kakak?”. Saya menjawab mau ke Pulau Sabu. “Oh hari ini tidak ada kapal kakak. Besok kapal baru jalan. Kakak balik sa besok jam 8 pagi, loket su buka jam 9. Beta bagian tiket. Kakak simpan sa beta punya nomor,”

Begitulah. Udah check-out hotel, packing, eeeh sampai pelabuhan tak ada kapal, tanpa pemberitahuan, dan semua nomor telepon yang ada di brosur tak bisa tersambung. Besoknya saya baru bisa menyeberang ke Pulau Sabu dengan kapal express, meskipun sempat molor dari rencana berangkat jam 9 pagi menjadi hampir jam 10. Setelah “membuang” satu hari di Kupang, molor beberapa puluh menit nungguin kapal lepas jangkar bukan hal aneh kan? Udah mending ada kapal dan tetap berangkat.

Pesawat jenis Cessna milik Susi Air yang baru saja take-off meninggalkan Pulau Sabu
Pesawat jenis Cessna milik Susi Air yang baru saja take-off meninggalkan Pulau Sabu

Ada dua jenis kapal untuk menyeberang dari Kupang ke Pulau Sabu. Yang pertama adalah kapal Express Cantika, lama penyeberangan kurang lebih lima jam. Jadwal kapal ini ada setiap hari, kecuali Sabtu dari Kupang dan Minggu dari Sabu. Express Cantika punya dua unit kapal cepat yang melayani rute ini. Tapi saat saya di Kupang kemarin, hanya satu kapal yang beroperasi, sementara kapal satunya sedang docking, mengurus ijin, atau apalah alasan petugas kapal, yang pasti satu kapal express tak bisa jalan.

Alternatif selain kapal express adalah ferry “Tungka” dengan lama penyeberangan 10 sampai 11 jam, tergantung cuaca dan ombak. Kapal Tungka ini bisa dibilang sebagai “kapal malam” karena berangkatnya jam 9 malam dari Kupang/Sabu dan tiba di Sabu/Kupang jam 7 pagi. Jadwal kapal ini setiap hari non-stop. Sebagai kapal malam, tak ada tempat duduk di dalam kapal ini. Hanya ada matras tumpuk seperti dormitory yang diatur sedemikian rupa dan terpisah antara kelas ekonomi dan vip. Tidur di matras, goyang-goyang, dengan pemandangan beberapa ekor kecoa lalu-lalang saat malam mungkin sudah jadi hal biasa bagi penumpang kapal ini, termasuk saya saat menyeberang kembali dari Pulau Sabu menuju Kupang.

Suasana di dalam kabin sleeper-ferry Tunka dari Pulau Sabu menuju Kupang

Malam hari ketiga di Pulau Sabu, saya sempatkan mampir pelabuhan, sekedar melihat apakah ada kapal express yang sandar. Dan ternyata gak ada dong! Terpaksa saya extend sehari lagi di Pulau Sabu. Keesokan paginya saya tetap mencari jalan keluar secepatnya dari pulau ini. Tak ada kapal laut, kapal udara pun jadi. Kebetulan homestay tempat menginap deket bandara, jaraknya sekitar 750 meter, jalan kaki tak sampai 30 menit. Tapi dasar apes, setelah sampai bandara, tiket Susi Air hari itu udah habis. Tiketnya memang harus beli on the spot, belum bisa beli online macam di Traveloka atau Tiket.com. Dan saat jalan keluar bandara, terlihat pesawat Cessna Susi Air terbang meninggalkan pulau ini.

Bandara Tardamu di Pulau Sabu ini sepintas mirip bandara DC Saudale di Rote, bahkan dengan bangunan gedung terminal lebih modern. Memang sih sampai artikel ini ditulis belum ada penerbangan komersil di Sabu, kecuali Susi Air yang melayani rute Kupang, Sabu, dan Waingapu. Melihat kondisi bandara yang sudah siap untuk pesawat jenis ATR, dalam beberapa bulan -atau mungkin satu dua tahun ke depan pasti ada penerbangan komersial di pulau ini. Mengingat potensi ekonomi dan wisata yang cukup menjanjikan di Pulau Sabu.

Drama transportasi laut dan udara antara Kupang dan Pulau Sabu yang saya alami menjadi bukti don’t expect too much saat melakukan perjalanan di Indonesia timur. You must learn to letting go what you can’t control. Traveling doesn’t always mean comfort , and that’s okay. Apa pun bisa terjadi. Tak hanya faktor cuaca, tapi juga hal-hal lain yang kadang di luar nalar. Enjoy the journey. Lakukan perjalanan ala travel slow, going locals, dan menikmati segala hal unpredictable tadi sebagai bumbu dari perjalanan itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *