Kurang lebih satu jam saya berenang di danau ubur-ubur Misool, sebelum guide lokal mengajak kembali ke homestay.

“Kita harus balik lebih awal karena mesti siap-siap buka puasa di homestay nanti,” kata Pak Wahab, guide sekaligus kapten kapal motor yang membawa berkeliling tempat-tempat terpencil dan eksotis di Misool.

Misool terletak di Raja Ampat bagian selatan -lebih dekat dengan Pulau Seram di Maluku dibandingkan jarak ke Sorong. Perlu waktu kurang lebih tiga jam menyeberang dengan kapal cepat dari Sorong untuk sampai Misool.

Lokasi Misool yang terpencil dan jauh dari keramaian penduduk membuat suasana masih alami, bahkan dibandingkan Wayag di bagian utara Raja Ampat yang lebih ramai wisatawan.

Pada musim tertentu, danau air payau di Misool dipenuhi ribuan ubur-ubur yang tidak menyengat. Di Indonesia, danau ubur-ubur air payau selain di Misool juga ada di Taman Nasional Komodo dan Kepulauan Derawan.

Anak-anak Misool di kampung pelabuhan Yelu

Trip kali ini kebetulan pas di bulan puasa. Beberapa peserta trip pun ada yang tetap puasa meski harus trekking dan snorkeling di Misool.

Puasa saat trip di Misool memang terasa berbeda. Tak ada azan, tak ada masjid atau mushola, karena di pulau tempat mengginap hanya ada satu bangunan, yaitu homestay Nut Tonton. Jarak dengan pulau lain pun cukup jauh, sekitar 30 menit dengan perahu motor.

Selain itu juga tak ada sinyal dan jaringan internet sama sekali. Listrik hanya untuk malam hari dengan genset.

Menunggu senja di Misool

Waktu berbuka puasa, sahur, sholat lima waktu, bahkan arah kiblat semuanya kita tentukan dengan insting, salah satunya dengan melihat alam seisinya, yang justru membuat diri ini makin bersyukur atas segala ciptaan-Nya.

Saat matahari mulai tenggelam, berarti sudah waktunya maghrib, tanda berbuka puasa. Apabila semburat merah sudah muncul di langit timur pada pagi hari, berarti sudah waktunya puasa dan sholat subuh.

Bahkan saat malam pun bisa digunakan untuk menentukan arah kiblat, dengan melihat rasi bintang, sambil menikmati momen stargazing di dermaga homestay diiringi suara ombak. Kalau cuaca mendung atau hujan, tinggal mengikuti jam di Sorong.

Homestay di Nut Tonton, Misool

Usai sahur, masih ada banyak waktu di pagi hari untuk tiduran di kamar atau bersantai menikmati sunrise di dermaga depan kamar. Homestay di Misool memang model kamar apung pinggir pantai yang bawahnya langsung laut. Tak jarang beberapa ekor hiu putih berenang di antara terumbu karang di bawah kamar.

Melewati puasa dengan view seperti ini setiap hari

Siang sampai sore hari adalah agenda rutin trip Misool, mulai dari snorkeling dan trekking di spot-spot cantik seperti Balbulol, Dafalen, Yapap, Goa Keramat, termasuk danau ubur-ubur.

Sore harinya, seperti yang dijanjikan Pak Wahab tadi, beberapa ekor ikan ukuran besar sudah datang lebih dulu di homestay, siap dimasak untuk pesta seafood saat berbuka puasa dan makan malam.

Lauk untuk buka puasa udah siap!

Berpuasa di serpihan surga seperti Misool membuat begitu dekat dengan alam dan tak henti mensyukuri salah satu keindahan ciptaan Tuhan untuk Indonesia berupa Raja Ampat.

Baca juga:

Foto-foto dan video dari Raja Ampat di blog Virtual Indonesia
Kumpulan artikel Raja Ampat di alexjourney.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *