Hampir dua pekan setelah Presiden Jokowi menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin Sinovac, tren kasus Covid-19 nasional masih tinggi.

Bahkan kebijakan PSBB (atau apapun istilahnya) Jawa Bali selama dua pekan – kemudian diperpanjang sampai 8 Februari, masih diiringi kabar tingginya tingkat keterisian rumah sakit untuk penderita Covid-19.

Kejadian di Depok pasien Covid-19 meninggal di taksi karena kapasitas RS penuh patut menjadi warning bersama. Di Malang, Jawa Timur, dikabarkan ada tiga kematian pasien Covid-19 isolasi mandiri di rumah yang tidak dibawa ke RS karena ICU penuh.

Kalau di Jawa dan Bali – yang mana ketersediaan fasilitas, tenaga medis, dan edukasi masyarakat dianggap memadai, masih banyak ditemui kasus-kasus seperti di atas, lantas bagaimana dengan daerah-daerah lain di pelosok Indonesia?

Dikabarkan Merdeka.com, ada keluarga di Pulau Rote, Nusa Tengara Timur, yang membawa pulang jenazah pasien Covid-19 tanpa alat pelindung diri (APD) dan hanya mengenakan masker.

Aksi itu dipicu kekecewaan terhadap pihak RSUD Ba’a yang tidak menjelaskan status pasien hingga meninggal dunia. “Tadi malam almarhum masih tidur bersama cucunya di atas tempat tidur di ruang IGD”, ujar kerabat korban.

Menurutnya, sejak almarhum masuk rumah sakit pada Jumat (22 Januari), pihak rumah sakit tidak pernah menjelaskan status pasien apakah Covid-19 atau tidak. Namun saat meninggal, baru diberitahu bahwa korban terpapar Covid-19.

“Sejak awal tidak disampaikan, bahkan sama sekali tidak ada penanganan sesuai protokoler kesehatan. Ini terkesan ada pembiaran. Kami tanya ke dokter dan suster, tidak ada yang memberikan penjelasan. Karena itulah, kami keluarga membawa paksa pulang almarhum untuk dimakamkan,” jelasnya.

Seorang kawan yang tinggal di Flores mengatakan, belum lama ini sejumlah dokter dan tenaga medis di Ruteng sempat tidak mau bertugas lantaran fasilitas dan APD yang minim, sementara kasus positif Covid-19 terus naik.

Di salah satu daerah di Kabupaten Sikka, NTT, seorang biarawati dikabarkan meninggal karena Covid-19. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena terkait aktivitas pelayanan dan interaksi dengan banyak orang.

Baca juga: 10 Destinasi Pilihan di Pulau Rote, dari Nembrala Sampai Telaga Nirwana

Saat tinggal beberapa hari di Rote bulan Desember lalu, saya sempat berbincang dengan warga setempat tentang Covid-19 ini. Selain mematikan sektor wisata, warga berharap tidak sampai ada kasus Covid-19 di Rote karena fasilitas kesehatan yang minim.

“Di sini (Nembrala) rumah sakit jauh, harus ke Ba’a. Kalau sampai ada yang kena corona di sini, kita pasti kesusahan semua karena bisa cepat nyebar dan solasi total,” kara warga tersebut.

Cukup mengkhawatirkan memang bila melihat tren kasus Covid-19 di daerah, apalagi tempat atau pulau dimana akses kesehatan jauh dan sarana transportasi masih minim.

Kalau di Jawa Bali saja masih banyak kasus terkait pendistribusian vaksin, bagaimana daerah-daerah seperti Pulau Rote ini. Jangankan vaksin, sekedar fasilitas swab antigen, isolasi, dan ICU pun masih sangat minim.

Kejadian pengambilan jenazah pasien Covid-19 di Pulau Rote menjadi concern bersama atas bahaya “bom waktu” penyebaran Covid-19 di wilayah-wilayah terpencil, khususnya di Indonesia bagian timur dengan akses dan sarana kesehatan yang masih minim.

Artikel ini juga dimuat di Kompasiana dengan judul Covid-19 Pulau Rote, Waspada “Bom Waktu” di Wilayah Pelosok Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *