“Sejak tiket mahal, tamu jadi sepi. Biasanya seminggu bisa non stop, sekarang ada tamu aja udah lumayan,” kata sesama kawan travel yang menjemput saya di Bandara Tambolaka, Sumba Barat, awal Juli 2019.

Gonjang-ganjing tingginya harga tiket pesawat domestik masih jadi topik utama sampai lewat pertengahan tahun ini. Mulai sebelum pemilu, bahkan sampai pemilu selesai, dan sebelum puasa sampai selesai Lebaran pun harga tiket masih terbang tinggi.

Meskipun saya bukan orang aviasi atau pengamat penerbangan, saya selalu mengikuti perkembangan ini karena mau nggak mau selalu memakai jasa penerbangan, entah urusan kerjaan atau liburan, meski dua hal ini kadang makin susah dibedakan karena “kerjaannya liburan”.

Oke, mari kita runut ke belakang. Sejarah panjang dunia penerbangan Indonesia sebenarnya lebih tua daripada usia negara kita sendiri. Pada tahun 1924, KLM dari Kerajaan Belanda sudah melakukan penerbangan perdana untuk rute Amsterdam ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan pesawat Fokker F-VII. Rute ini kemudian menjadi salah satu flight terpanjang di dunia sampai periode Perang Dunia kedua.

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno mengakuisisi KLM yang beroperasi di Indonesia dan mendirikan Garuda Indonesia. Lalu pada tahun 1950an, Garuda Indonesia memonopoli penerbangan domestik di tanah air. Kemudian pemerintah mendirikan Merpati Nusantara Airlines (Merpati) pada 1962 untuk melayani rute-rute yang lebih pelosok.

Kompetitor di penerbangan domestik baru muncul pada tahun 1969 dan 1970 saat lahirnya Mandala Airlines dan Bouraq. Lalu ada maskapai baru Sempati Air yang muncul pada tahun 1968, yang disusul Pelita Air. Pada tahun 2000, Presiden Gus Dur melonggarkan regulasi penerbangan komersial untuk memacu pertumbuuhan industri wisata. Perkembangan maskapai swasta pun bergerak cepat dengan lahirnya Lion Air (1999), Adam Air (2002), Batavia Air (2002), dan Sriwiijaya Air (2002). Lalu muncul beberapa maskapai regional seperti Kalstar, Trans Nusa, dan Trigana Air.

Persaingan yang ketat dan faktor lain membuat beberapa maskapai kewalahan dan akhirnya gulung tikar, seperti Bouraq dan Sempati. Bahkan Merpati yang merupakan maskapai plat merah harus “mengalah” pada Garuda. Sedangkan Adam Air tutup setelah jatuh di Selat Makasar pada penerbangan Surabaya ke Manado, Januari 2007. Batavia Air dinyatakan bangkrut pada 2013 mesikpun mencatat “zero accident”.

Setelah berbagai krisis awal 2010-an, sejumlah maskapai membentuk beberapa “group”. Kini, ada dua group besar maskapai nasional, yaitu Garuda Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, NAM Air) dan Lion Group (Lion Air, Batik Air, Wings Air). Satu lagi pemain segmen domestik yaitu Air Asia Indonesia, yang merupakan “kepanjangan sayap” dari maskapai berbiaya rendah asal Malaysia.

Peta maskapai domestik Indonesia pada pertengahan 2019

Saat ini, Garuda Group menggunakan Garuda Indonesia untuk segmen full-service dan Citilink untuk segmen low cost. Sriwijaya Group menggunakan Sriwijaya Air di kelas mid-service dan NAM Air untuk rute pelosok. Sementara Lion Group menggunakan Lion Air sebagai maskapai LCC mereka, Batik Air untuk full service, dan Wings Air untuk penerbangan pelosok. AirAsia yang sepenuhnya menggunakan Airbus, hanya mengambil sebagian kecil dari “kue” penerbangan nasional ini, yaitu rute-rute tujuan wisata seperti Jakarta, Medan, Jogja, Surabaya, dan Bali.

Menurut centreforaviation.com, industri penerbangan domestik Indonesia tumbuh tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, dari 30 juta penumpang pada 2005 menjadi 97 juta penumpang pada 2017. Indonesia menempati peringkat lima pasar penerbangan domestik dunia setelah China, Amerika, India, dan Jepang. Tapi untuk market share, Indonesia kini hanya dikuasai dua group besar, yaitu Garuda dan Lion. Inilah yang kemudian menjadikan industri penerbangan nasional rentan mengalami duopoli.

Market share maskapai domestik Indonesia

Setelah dilaunching pada tahun 2000, Lion berkembang sangat pesat dan menjadi penguasa pasar domestik di Indonesia dengan 25 persen market share. Bahkan sebagai group, market share Lion mencapai 50 persen pada 2017. Sementara itu market share Garuda terbantu dengan kehadiran Citilink yang mengambil segmen low cost. Pada tahun 2017, market share keduanya mencapai 17 persen. Group terbesar ketiga, Sriwijaya Air, memiliki 13 persen market share, sebelum kemudian bergabung dengan Garuda Group pada November 2018. Dengan operasional Sriwijaya Group yang kini berada di bawah payung Garuda, maka maskapai pemerintah ini sekarang punya 48 persen market share.

Sisanya yang 2 persen diisi AirAsia Indonesia yang memang lebih fokus ke segmen low cost internasional. Peta ini kemungkinan akan berubah pada akhir 2019 setelah AirAsia Indonesia membuka rute domestik baru yang identik sebagai destinasi wisata, salah satunya adalah Labuan Bajo (Kepulauan Komodo), yang kemungkinan disusul dengan Sorong (Raja Ampat).

Hingga pertengahan 2019, masih ada beberapa “pemain kecil” lainnya di pasar penerbangan domestik kita, sebut saja Trigana Air, Susi Air, Trans Nusa, dan Airfast. Namun ketiganya hanya fokus pada segmen kecil, pesawat sewa, atau transportasi pekerja tambang di wilayah pelosok.

Bersambung ke artikel berikutnya:
Duopoli Maskapai dan Harga Tiket yang Terbang Tinggi (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *