Kamis sore di waiting room Bandara Ngurah Rai Bali, awal Juli 2019, saya melihat orang-orang terlihat buru-buru dan berdesakan, saling berebut ingin cepat-cepat masuk pesawat. Pemandangan ini kerap kita jumpai saat boarding, khususnya penerbangan domestik. Jangankan zonasi seat number, antri pun kadang terabaikan. Kenapa sih pada buru-buru dan cepet-cepetan masuk pesawat, toh semua sudah dapat tempat duduk. Gak mungkin berdiri juga kan saat terbang nanti?

Lantas saya berpikir, kapan ya airport kita pake sistem boarding seperti maskapai low cost Jepang, Peach Air. Pada saat boarding, penumpang seat A/F (window seat) masuk pesawat lebih dulu. Disusul B/E (middle), terakhir C/D (aisle). Proses boarding jadi lebih cepat, nyaman, dan tak saling berebutan.

Proses boarding yang lebih cepat ini membuat waktu ground service lebih cepat sekaligus menghemat biaya operasional maskapai, terutama di segmen low cost. Jadi secara tidak langsung, budaya tidak mau antri yang masih kita lakukan sampai saat ini turut jadi salah satu faktor tingginya harga tiket pesawat domestik.

Baca juga artikel sebelumnya:
Duopoli Maskapai dan Harga Tiket yang Terbang Tinggi (Bagian 1)

Faktor lainnya adalah duopoli yang kini dialami industri penerbangan domestik Indonesia. Duopoli mengarah pada harga yang lebih tinggi daripada harga pasar bebas. Duopoli juga bisa memicu regulasi harga oleh pemerintah. Menurut katadata.co.id, dampak potensial dari pasar duopolistik dalam industri penerbangan kita terasa saat dua group besar maskapai nasional menaikkan harga tiket rute domestik.

Asosiasi Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) menyatakan bahwa Garuda dan anak perusahaannya Citilink menaikkan harga tiket masing-masing sebesar 14% dan 1% pada Juli 2018. Lion Air mengikuti dengan menaikkan harga sebesar 36% pada Oktober 2018, sementara Sriwijaya Air menaikkannya sebesar 51% pada akhir Januari 2019. Kenaikan harga tiket ini diikuti kebijakan penghapusan bagasi gratis untuk rute domestik, sebuah peraturan yang membuat kaget pasar domestik.

Untuk melihat adanya duopoli harga, saya membandingkan harga tiket domestik Garuda Group, Lion Group, dan AirAsia pada enam rute tanggal 20 Mei 2019. Tiga rute pertama yang dilayani ketiga maskapai tersebut adalah Jakarta – Jogja, Jakarta – Surabaya, dan Jakarta – Denpasar, dengan asumsi jarak dan waktu terbang yang sama. Sementara tiga rute kedua yang tidak dilayani oleh AirAsia adalah Jakarta – Palembang, Jakarta – Pontianak, dan Jakarta – Padang.

Hasilnya memang bervariasi. Untuk tiket segmen full-service (Garuda Indonesia, Batik Air, dan Sriwijaya Air) tidak ada perbedaan signifikan antara harga dengan dan tanpa kehadiran AirAsia, karena AirAsia sendiri memang hanya bermain di segmen low cost. Untuk tiket low-carrier (LCC), bagaimanapun juga, kehadiran AirAsia pada rute tertentu memang cukup “memukul” harga Lion Air, dengan selisih antara 4% dan 21%.

Perbandingan harga beberapa rute domestik di Indonesia

Jika kita membandingkan harga penerbangan internasional Garuda Indonesia dari Jakarta ke Singapura, dengan penerbangan domestik mereka dari Jakarta ke Padang, dengan jarak yang hampir sama, ternyata harga ke Singapura lebih murah 8%. Kita tahu bahwa rute ini juga dilayani maskapai low carrier seperti AirAsia. Kehadiran pesaing -meskipun beda segmen- terbukti mampu mengurangi harga.

Menurut kiwi.com, Indonesia adalah negara termurah keenam di dunia untuk harga tiket pesawat domestik pada 2017 dengan harga rata-rata USD 6,49 per 100 kilometer. Tapi, dalam dua tahun terakhir terjadi perubahan signifikan, dimana harga rata-rata per 100 kilometer Lion Air naik menjadi USD 10,55 dan Garuda Indonesia naik menjadi USD 16,80.

Kenaikan harga tiket pesawat domestik di Indonesia

Kenaikan harga tiket berdampak langsung pada penurunan jumlah penumpang. Terlihat pada tabel bahwa jumlah penumpang domestik yang menggunakan lima bandara utama Indonesia mencapai level terendahnya selama empat tahun terakhir. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan jumlah penumpang domestik tercatat di lima bandara utama Indonesia, yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami penurunan 21,26% dari waktu yang sama tahun lalu, Bandara Internasional Juanda Surabaya turun 20,80%, Bandara Internasional Ngurah Rai Bali turun 11,18%, Bandara Hasanuddin Makassar 21,75%, dan Bandara Kualanamu Medan turun 31,62%.

Penurunan jumlah penumpang di lima bandara utama Indonesia

Perbandingan dengan negara tetangga

Saya membandingkan harga tiket penerbangan domestik Indonesia dengan negara-negara tetangga di region yang sama yaitu Filipina, Thailand, Malaysia, dan Australia, kecuali Singapura dan Brunei yang memang tidak punya rute domestik. Apakah duopoli atau oligopoli yang umum terjadi di negara-negara tetangga kita ini?

Pasar domestik maskapai di negara tetangga

Menurut centreforaviation.com, ada tiga pemain kunci di industri penerbangan domestik Filipina. Cebu Pacific Group mengalami penurunan pangsa pasar domestik dari 2015 hingga 2017, tetapi masih mempertahankan market share sebesar 55%. Disusul Philippine Airlines Group yang bermain di segmen full service dan AirAsia Filipina untuk segmen low cost masing-masing memegang 29% dan 14% dari pasar domestik Filipina.

Di Thailand, menurut flightglobal.com, Thai AirAsia memimpin industri domestik mereka dengan pangsa pasar 34%, diikuti oleh Thai Airlines dengan 33%, Thai Lion Mentari (anak perusahaan Lion Air) dengan 19%, dan Bangkok Airlines dengan 14%. Sedangkan di Malaysia, AirAsia mendominasi pasar sebesar 51%, diikuti Malaysian Airways dan Malindo (afiliasi Lion Air) masing-masing sebesar 33% dan 16%. Pasar domestik di Australia hampir mirip dengan Indonesia, dimana dua group besar yaitu Qantas Group dan Virgin Group menguasai sebesar 57% dan 38%.

Kemudian kita bandingkan harga tiket negara-negara di atas dengan Indonesia, apakah sistem duopoli dan oligopoli berpengaruh pada perbedaan harga tiket pesawat.

Perbandingan harga rute domestik di negara tetangga

Tabel di atas menunjukkan harga dan harga per kilometer dari berbagai rute penerbangan domestik di wilayah tersebut pada 20 Mei 2019. Saya membandingkannya dengan harga di Indonesia untuk penerbangan dengan asumsi jarak dan waktu yang sama. Pertama harga untuk rute Jakarta – Pontianak di Indonesia, Bangkok – Hat Yai di Thailand, dan Sydney – Brisbane di Australia. Hasilnya menunjukkan bahwa tiket segmen full service Garuda Indonesia 39% lebih mahal daripada tiket Thai Airways dan 29% lebih mahal dari Qantas.

Untuk tiga rute yang sama, harga tiket segmen low cost di Indonesia juga paling mahal. Terbang Lion Air dari Jakarta ke Pontianak adalah 66% lebih mahal daripada rute dengan jarak yang sama di Thailand dan 10% lebih mahal daripada rute dan jarak yang sama di Australia.

Kita pilih rute lain di Indonesia, misalnya Jakarta – Padang, kita bandingkan harga dengan Manila – Davao di Filipina dan Kuala Lumpur – Kuching di Malaysia, dengan asumsi jarak dan waktu terbang yang sama. Untuk tiket full service pada rute panjang ini, Garuda Indonesia 37% lebih mahal daripada Philippine Airlines dan hampir dua kali lipat harga Malaysian Airlines. Untuk segmen low cost pada rute yang sama, Lion Air 41% lebih mahal daripada Malindo Air di Malaysia dan sedikit lebih murah (6%) dari AirAsia Filipina.

Dari beberapa sampel di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa dengan menghitung rata-rata harga per kilometer dari berbagai maskapai di wilayah Asia Tenggara dan Australia, tiket full service dan low cost di Indonesia adalah yang paling mahal.

Untuk membantu menekan tingginya harga tiket pesawat domestik, Indonesia harus menghindari duopoli. Kehadiran pemain baru -atau pemain lama dengan cakupan yang lebih luas- terbukti membuat harga lebih kompetitif, seperti di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Selain harga yang kompetitif, maskapai juga dipacu dengan persaingan yang sehat di bidang pelayanan dan ketepatan waktu, yang ujung-ujungnya memberi dampak positif pada masyarakat pengguna jasa penerbangan.

Baca juga artikel sebelumnya:
Duopoli Maskapai dan Harga Tiket yang Terbang Tinggi (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *