Shock culture. Itulah yang sering dialami beberapa peserta open trip Jepang. Mereka yang baru pertama kali ke Negeri Sakura akan sedikit kaget dengan kehidupan sehari-hari orang Jepang yang begitu bersih, rapi, dan disiplin. Hal ini tak hanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka, tapi juga kota-kota yang lebih kecil semacam Kyoto, Nikko, atau Kawaguchi.

Kita yang di Indonesia terbiasa hidup bebas, semaunya sendiri, tak disiplin, dan males antri, akan melihat dan merasakan sendiri bagaimana bangsa Jepang telah turun-temurun hidup disiplin dan teratur. Dan terbukti, hidup di Jepang yang serba teratur menjadikan semuanya lebih mudah, lebih cepat, dan lebih nyaman.

Disiplin waktu

Setiap detik sangat berharga di Jepang. Kereta dan bis semua terjadwal dan selalu tepat waktu. Kita yang harus menyesuaikan, terlambat beberapa detik saja berarti ditinggal dan harus menunggu sepuluh sampai 15 menit lagi untuk bis atau kereta berikutnya, itu pun kalau masih ada. Begitu pula saat naik bis antar kota dan berhenti di rest area. Sopir akan memberi batas waktu istirahat dan lima menit sebelumnya penumpang harus sudah kembali ke bis.

Budaya antri

Hampir di semua hal, orang Jepang sangat tertib antri, bahkan tanpa ada petugas sekalipun. Di terminal, stasiun, minimarket, rumah makan, dan lain-lain. Anak kecil, remaja, orang tua, semua antri, tidak ada yang mau menang sendiri. Budaya antri ini juga berlaku saat naik turun eskalator, berdiri di satu sisi untuk memberi jalan orang berjalan di sisi sebelahnya. Atau pada saat naik turun kereta dan bis, memberi jalan orang lain untuk keluar terlebih dulu, baru kemudian masuk kereta. Budaya antri ini sangat simpel dan semua orang bisa melakukannya, juga menjadi lebih nyaman, lancar, dan menyenangkan.

Budaya bersih

Orang Jepang mungkin tak mengenal istilah “kebersihaan sebagian dari iman”, tapi sangat sulit menemukan sampah berserakan di tiap sarana publik di Jepang. Meski tak ada tempat sampah sekalipun, tak terlihat adanya sampah menumpuk atau berserakan. Orang Jepang sudah terbiasa menahan atau menyimpan sampahnya dan baru membuang bila ketemu tempat sampah. Dan setiap tempat sampah selalu terpisah antara sampah botol, sampah plastik, dan sampah organik.

Toleransi dan empati

Saat kamu duduk di kursi kereta dan ada orang tua yang berdiri, tanpa diperintah kamu harus memberikan kursimu pada orang tua itu. Tidak peduli saat sepi atau ramai. Entah kamu duduk di priority seat atau bukan. Sikap toleransi dan empati orang Jepang sangat tinggi, bahkan ngobrol dengan teman atau menerima telepon di dalam kereta pun dianggap mengganggu kenyamanan orang lain. Orang Jepang selalu memposisikan diri sebagai orang lain. Sikap toleransi ini sebenarnya juga menjadi budaya kita, tapi akhir-akhir ini mulai luntur karena ego dan kepentingan pribadi.

Budaya terima kasih

Bagi sebagian kita, mengucapkan “terima kasih” kadang terasa berat. Tapi bagi orang Jepang, mengucapkan arigato gozaimasta sudah menjadi budaya sehari-hari. Orang Jepang mengucapkan terima kasih bukan hanya saat menerima, tetapi juga saat memberi. Dan orang yang lebih tua pun tak segan mengucapkan terima kasih pada yang lebih muda. Terbukti, berada di lingkungan yang saling senyum, saling sapa, dan saling mengucap terima kasih ini bikin hidup lebih nyaman dan menyenangkan.

Etika makan

Tidak menghabiskan makanan adalah hal tabu di Jepang. Karena itu beberapa rumah makan seperti Yoshinoya, Tsukiya, atau semacamnya selalu memberi pilihan menu small, medium, dan large. Selesai makan, orang Jepang jarang ada yang ngobrol-ngobrol atau nongkrong. Mereka yang melakukannya dianggap tidak produktif. Harga makanan yang dijual pagi dan sore berbeda, harga sore atau malam biasanya lebih mahal beberapa Yen. Orang Jepang juga selalu membersihkan meja makan dari tray atau piring kotor saat makan di restoran atau minimarket.

Toilet kering

Hampir semua toilet di Jepang adalah toilet kering. Setiap toilet biasanya dilengkapi bidet atau pancuran kecil untuk membilas setelah buang air. Yang unik, di beberapa toilet juga dilengkapi suara atau musik untuk menyamarkan suara buang air.

Budaya malu

Di setiap perempatan yang ada lampu merah, tidak ada orang yang menyerobot. Bahkan pejalan kaki pun harus menunggu lampu hijau untuk menyeberang, sekalipun sepi dan tak ada kendaraan. Selain karena disiplin, orang Jepang merasa malu melanggar peraturan. Apabila dilihat orang lain, terutama anak kecil, maka hal itu akan ditiru oleh generasi berikutnya dan orang Jepang tak ingin hal itu terjadi.

Budaya orang Jepang dan hal-hal simpel yang meraka lakukan sehari-hari ini sebenarnya sangat mudah dan bisa kita terapkan di kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada ruginya mengucap terima kasih, tak perlu malu membersihkan meja makan, tak perlu sungkan hormat pada yang lebih muda, dan tak perlu minder untuk tertib peraturan. Kecuali hati dan akal kita sudah tercemar lingkungan yang terlanjur mengikuti pola pikir “aturan ada untuk dilanggar”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *