Semua negara Asia Tenggara berpacu dengan waktu menghadapi virus corona atau Covid-19. Faktor ekonomi, teknologi, sosial, dan demografi membuat penanganan pandemi corona di Asia Tenggara tidak semudah di China atau Eropa.

Dari sejumlah kasus virus corona di Asia Tenggara, cukup menarik mengamati langkah-langkah yang diambil oleh Vietnam.

Sampai 23 Maret, di Vietnam tercatat 113 orang positif corona, 16 berhasil sembuh, tanpa ada laporan kematian. Angka-angka yang cukup “impresif” untuk negara berpenduduk hampir 100 juta jiwa ini di tengah pandemi global virus corona.

Baca juga:
Panduan Liburan Saat Pandemi Virus Corona di Vietnam

Vietnam berbatasan langsung dengan China, wilayah dimana outbreak ini berasal. Pada tahap awal penyebaran corona di Wuhan, Vietnam langsung menutup akses keluar-masuk dengan China: darat, laut, maupun udara lewat bandara.

Semua orang yang masuk ke Vietnam harus melalui pemeriksaan ketat. Pemerintah menyiapkan tempat-tempat untuk karantina massal dan karantina pribadi selama 14 hari bagi semua wisatawan asing yang suspect.

Hotel-hotel diawasi dengan ketat, terutama di kawasan yang ramai turis asing seperti di Old Quarter Hanoi, Halong City, Hoi An, hingga Bui Vien dan Pham Ngu Lao di Ho Chi Minh City. Hotel yang tetap menerima wisatawan asing dari daerah yang suspect Covid-19 harus siap membayar denda atau dicabut ijinnya.

Tidak ada lockdown kota seperti Filipina atau lockdown negara seperti Malaysia. Di Vietnam, wilayah atau area yang kedapatan positif corona langsung ditutup. Semua warga, tanpa kecuali, dilarang keluar area tersebut. Kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan obat-obatan disediakan atau diantar dengan penjagaan ketat oleh petugas.

Wisatawan di Hanoi pada saat outbreak virus corona

Pada awal merebaknya corona, Vietnam berani menabrak himbauan WHO. Semua warga Vietnam wajib memakai masker di ruang publik, bahkan di dalam bis kota dan kereta. Yang melanggar dikenakan denda dan sanksi tegas. Pemerintah menjami ketersediaan masker. Pembagian masker gratis ada di setiap stasiun, terminal, dan pasar.

Vietnam bahkan dua kali mencatat keberhasilan seluruh pasien yang positif corona berhasil sembuh. Seluruh dokter dan perawat disediakan APD. Negara ini juga yang pertama kali membuat mesin disinfektan portabel dan sudah disebar di ruang-ruang publik.

Seperti negara Asia Tenggara lainnya, sektor pariwisata Vietnam juga terpukul dengan situasi ini. Semua destinasi wisata masih ditutup. Sebuah pukulan telak untuk tour agent, biro perjalanan, dan hotel karena periode ini seharusnya adalah puncak peak season di Vietnam.

Yang paling memukul Vietnam tentu saja dibatalkannya ajang balap mobil paling bergengsi Formula 1 Hanoi yang rencananya akan digelar pada 5 April 2020. Ini adalah Formula 1 pertama di Vietnam.

Di sektor penerbangan, Vietjet telah menghentikan semua rute Asia Tenggara, diikuti maskapai pemerintah Vietnam Airlines yang juga menghentikan semua rutenya, termasuk ke Indonesia.

Vietnam Airlines menghentikan semua rute internasional

Tak ada satu negara pun yang seratus persen siap menghadapi virus corona. Tapi untuk ukuran negara berkembang, Vietnam memiliki konsep dan planning terbaik dalam menangani pandemi corona di Asia Tenggara – setelah Singapura tentunya.

Sampai awal pekan terakhir bulan Maret, angka positif dan kasus kematian di Vietnam adalah yang paling rendah di Asia Tenggara, setidaknya bila dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, bahkan Singapura.

Kita bisa belajar dari Vietnam. Mulai dari keseriusan pemerintah, kedisiplinan warganya, dan semangat bersatu untuk negara, bersama-sama melewati masa sulit Covid-19 ini.

Update kabar virus corona dan kaitannya dengan pariwisata Indonesia dan Asia di sini.

Artikel ini juga dipublikasikan di Kompasiana 23 Maret 2020 dengan judul Melihat Keberhasilan Vietnam Hadapi Wabah Corona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *