Akhir Oktober lalu saya kembali singgah di Aimere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan menginap di sebuah homestay tepi pantai yang di sebelahnya terdapat pembuatan moke.

Moke adalah arak tradisional khas Flores yang dibuat dari hasil penyulingan buah pohon lontar atau enau. Daerah lain di NTT menyebut moke sebagai sopi (Timor) dan peci (Sumba).

Aimere sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil moke di Flores. Proses pembuatan moke umumnya masih dilakukan secara tradisional dan pabrik-pabrik rumahan yang diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang.

Pagi itu setelah menikmati sunrise dengan latar belakang Gunung Inerie, saya menghampiri Martin, satu-satunya pekerja di pabrik moke rumahan tersebut.

Pria berusia 40an tahun itu tampak mengambil beberapa batang kayu untuk bahan bakar menyuling moke. Sesekali ia menghisap rokok sambil mengelap keringat di dahi dengan kaosnya.

“Nyala api harus tetap kita jaga biar hasilnya maksimal,” kata Martin, yang mengaku sudah dua tahun bekerja di tempat pembuatan moke ini.

Pabrik rumahan pembuatan moke di Aimere, Nusa Tenggara Timur
Pabrik rumahan pembuatan moke di Aimere, Nusa Tenggara Timur

Martin pula yang memanjat pohon-pohon lontar di sekitar pabrik. Setelah terkumpul, barulah ia mengupas buahnya dan menampung airnya dalam satu drum besar berwarna biru.

“Kalau lagi musim, dalam sehari bisa sampai dua drum. Tapi kalau musim kemarau seperti ini dapat satu drum saja sudah lumayan,” kata Martin sambil membuang ampas sisa-sisa rebusan air buah lontar tadi.

Uap dari rebusan buah lontar ini “dialirkan” melalui pipa tradisional yang terbuat dari batang bambu sepanjang kurang lebih 10 meter. Pada ujungnya, tetesan-tetesan uap air ditampung dalam botol air mineral bekas yang siap dijual.

Beberapa botol yang sudah penuh moke tampak disendirikan oleh Martin. Rupanya ia akan mengolah lagi moke ini untuk dijadikan moke kualitas nomor satu. Orang lokal menyebutnya BM, singkatan dari bakar menyala.

Sesuai namanya, moke BM ini menghasilkan alkohol dengan kadar yang lebih tinggi. Apabila moke ini dituang sedikit ke lantai atau meja dan dipantik dengan korek api, maka akan muncul bara api yang menyala.

Satu botol moke BM kemasan air mineral 600 ml dijual dengan harga antara 50 ribu sampai 60 ribu. Sedangkan moke biasa dijual antara 25 ribu sampai 30 ribu.

Proses pembuatan moke dilakukan secara tradisional dan turun temurun

Sementara itu di tempat pengolahan moke lainnya di Aimere, moke dicampur dengan sarang semut, menghasilkan moke berwarna merah tua. Moke sarang semut ini diyakini bisa menjadi obat berbagai jenis penyakit, seperti jantung koroner dan hipertensi.

“Betul, bisa jadi obat. Ini yang merah dari sarang semut. Ada orang ambil dari sekitar sini dan kita buat dengan moke ini,” kata ibu-ibu paruh baya yang menjual moke sarang semut ini di kios depan rumahnya.

Simbol adat dan kebersamaan

Arak tradisional ini merupakan minuman masyarakat luas di Flores, termasuk di kalangan pejabat daerah. Masyarakat Flores sering mengonsumsi moke beramai-ramai atau dalam istilah lokal disebut melingkar.

Konsumsi moke sering dilakukan bersama aneka camilan atau lepeng. Moke juga dikonsumsi dengan makanan khas Flores seperti ikan kuah asam, ikan bakar, pisang bakar atau rebus, dan sambal lemon atau sambal tomat balik.

Di Aimere, penjual moke bisa dengan mudah kita temui di sepanjang jalan Trans Flores. Arak lokal ini umumnya dikemas dalam botol air mineral ukuran 600 ml dan 1,5 liter.

Pohon lontar di sekitar pabrik pembuatan moke di Aimere
Pohon lontar di sekitar pabrik pembuatan moke di Aimere

Perdagangan moke di Flores memang unik. Kalau di Aimere kita mudah mendapatkan moke, lain ceritanya di Maumere. Di ibukota Kabupaten Sikka ini moke tidak dijual secara terang-terangan, tapi terkesan lebih tersembunyi.

“Abang dari Labuan Bajo? Kerja atau wisata? Abang bukan anggota, kan?” seorang pemuda berusia 20an tahun tampak sedikit gelisah saat saya akan membeli moke di rumahnya yang terletak di sebuah gang kecil di Maumere.

“Aman, kita bukan anggota. Berapa harga yang botol kecil?” timpal saya dengan sedikit menahan tawa. Hampir sama dengan Aimere, moke botol kecil di Maumere dijual 25 ribu, sedangkan botol besar 50 ribu.

“Moke ini sudah seperti tradisi. Kami menyebutnya air kata-kata. Kalau kumpul, kita minum ini, kita jadi banyak cerita dan tertawa. Itulah kebersamaan kami di Flores ini,” kata Johan, tour guide yang saya temui di sebuah hotel di Maumere.

Ia melanjutkan ceritanya, “Di Flores ini, dari hasil jual moke ini banyak orang yang bisa kasih kuliah anaknya di Jawa. Ada yang bisa buka usaha di kota, dan masih banyak lagi. Jadi mau dilarang seperti apa, ini sudah budaya kita,”

“Kami ingin ke depannya pemerintah bisa memfasilitasi industri moke ini. Janganlah dipandang sebelah mata. Lihat Bali, mereka bisa menjual arak lokal dengan harga tinggi. Kalau Bali bisa, kenapa Flores tidak,” lanjutnya.

Beberapa hari kemudian saya kembali ke Labuan Bajo untuk memandu trip Sail Komodo. Seorang kawan yang bekerja di kapal wisata menyapa, “Halo kawan, apa kabar? Bawa air komodo tidak? Hahaha!” teriaknya dari kapal sebelah yang sandar di dermaga.

Air komodo, begitu kami sering menyebut moke. Seperti halnya sunset Labuan Bajo yang selalu istimewa, demikian pula moke, yang di setiap kehadirannya selalu disertai keakraban dan kekeluargaan yang hangat khas masyarakat Flores.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *