Lautan berwarna biru muda dengan gradasi hijau toska, pasir putih dan pink, pemandangan bukit-bukit yang cantik, dan sunset yang romantis. Mungkin itulah gambaran awal saat mendengar Labuan Bajo, kota pelabuhan di ujung barat Pulau Flores ini.

Tapi harapan kadang tak seindah angan. Begitu tiba di Labuan Bajo, kita akan disambut oleh bongkaran material, truk-truk, alat berat, pekerja yang lalu lalang, dan debu tebal di sepanjang jalan kawasan pelabuhan dan bandara.

Awal Oktober 2020 kemarin, saya kembali ke Labuan Bajo untuk pertama kalinya sejak masa pandemi Covid-19. Sepintas, Labuan Bajo tak seperti kota mati, karena memang banyaknya aktifitas proyek “wisata super premium” yang sedang dikebut pemerintah pusat.

Tapi dari sisi wisata, Labuan Bajo tak ubahnya Bali di masa pandemi. Mati suri. Hotel-hotel, homestay dan hostel, cafe, restoran, dan jasa tour wisata sebagian buka tanpa kunjungan tamu yang signifikan.

Truk pengangkut material menutup jalan di Labuan Bajo

Situasi diperburuk dengan proyek wisata premium yang terkesan hajar habis. Siang malam, seluruh kota seperti dibongkar total. Proyek drainase, trotoar, dan pengaspalan jalan seperti tak ada habisnya sepanjang area pelabuhan, kampung ujung, bandara, hingga jalan utama menuju Bukit Sylvia dan kompleks kantor pemerintah provinsi Manggarai Barat.

Parahnya, proyek-oroyek ini seperti kurang memperhatikan faktor safety. Traktor dan alat berat bekerja begitu saja di tengah banyaknya pengguna jalan — kadang sampai menutup jalan, tanpa safety sign yang memadai.

Galian-galian di pinggir jalan pun sebagian dibiarkan terbuka begitu saja tanpa papan peringatan atau penanda lainnya. Kondisi yang sangat berbahaya ketika malam atau saat hujan dan tergenang air.

Proyek trotoar menutup dua sisi jalan di area pelabuhan Labuan Bajo

Toko kelontong, warung nasi kuning, dan warung masakan Padang di sekitar pelabuhan pun turut jadi korban mega proyek ini. Sudahlah sepi pengunjung, kondisi debu dan bongkaran material juga membuat suasana kurang nyaman.

“Sepi sekali bang, apalagi sepi wisata karena corona. Ya mau gimana lagi kita juga nggak mungkin pindah. Kita sih pengennya proyek ini cepet selesai dan kita jualan juga nyaman,” kata salah satu pedagang nasi padang di area Kampung Ujung.

Kondisi jalanan di Labuan Bajo setelah hujan. (foto: Twitter @Travelfish)

Kondisi makin parah saat hujan deras datang. Lumpur dan genangan air dimana-mana, membuat sebagian Labuan Bajo seperti kota yang habis diterjang banjir bandang. Apalagi tahun ini musim hujan datang lebih cepat.

Sunset cantik Labuan Bajo dari Bukit Sylvia

Memang, kondisi ini adalah pil pahit yang harus ditelan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium. Beberapa hasilnya mungkin sudah bisa sedikit terlihat, seperti jalanan aspal yang lebar dan halus, serta trotoar yang lebih tertata di sekitar Kampung Ujung dan Marina.

Bagi sebagian orang yang belum pernah ke Labuan Bajo, mungkin membayangkan kota ini seperti foto-foto cantik di Instagram. Tapi tidak untuk saat ini. Skip Labuan Bajo dan ambil Sailing Tour ke Taman Nasional Komodo atau Overland Tour ke destinasi lainnya di Flores seperti Bajawa atau Ende.

Tulisan ini juga publish di Kompasiana dengan judul Debu dan Lumpur, Sisi Lain Labuan Bajo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *