Hari Minggu pertama di bulan November 2020, kapal wisata phinisi yang saya tumpangi merapat ke dermaga Pulau Komodo sekitar jam 11 siang. Dermaga dari beton ini memanjang sekitar 300 meter dari bibir pantai, lengkap dengan tiang-tiang lampu bertenaga surya.

Dermaga ini tampak kokoh, modern, dan minimalis, cukup untuk menggambarkan Pulau Komodo sebagai destinasi “wisata super premium” yang belakangan kembali ramai diperbincangkan.

Langit biru cerah, air laut tenang dengan gradasi warna biru muda dan toska, serta latar belakang bukit-bukit di Pulau Komodo yang berwarna kecoklatan di penghujung musim kemarau menjadi pemandangan khas keindahan Taman Nasional Komodo siang itu.

“Selamat siang. Kita cek dulu suhu tubuhnya lalu silahkan cuci tangan,” salah satu petugas atau ranger menyapa kami dengan ramah. Beberapa wastafel portabel disediakan lengkap dengan sabun cair untuk cuci tangan. Ini merupakan protokol kesehatan kunjungan wisata di era new normal.

Dermaga di Pulau Komodo

Pulau Komodo telah dibuka kembali untuk wisatawan sejak Agustus silam, setelah sebelumnya sempat tutup beberapa bulan karena pandemi Covid-19.

Pada dua bulan awal masa pembukaannya, Pulau Komodo dan beberapa pulau lain di area Taman Nasional Komodo hanya dibuka untuk wisatawan lokal NTT. Kemudian secara bertahap menerima kedatangan wisatawan domestik dan asing – umumnya mereka yang masih berada di Indonesia.

Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada libur panjang akhir Oktober 2020. Hal ini dibenarkan salah satu kru kapal phinisi yang saya tumpangi. “Betul mas, banyak sekali perahu yang jalan mulai hari Kamis kemarin. Ini tadi kami juga baru sandar drop tamu dari Jakarta. Minggu depan juga ada satu rombongan lagi,”

Rinca ditutup, semua ke Pulau Komodo

Pulau Komodo merupakan satu dari dua pulau utama di area Taman Nasional Komodo yang menjadi tempat wisatawan melihat komodo di habitat aslinya. Satu pulau lainnya adalah Rinca, yang sejak akhir Oktober 2020 lalu ditutup sementara untuk wisatawan setelah foto truk vs komodo di area proyek “Jurrasic Park” yang viral di media sosial.

Sejak penutupan Rinca, semua kunjungan wisata untuk melihat komodo kini dialihkan ke Pulau Komodo. Demikian pula dengan ranger-ranger yang sebelumnya bertugas di Rinca, sebagian dipindahkan ke Pulau Komodo dan sebagian lagi ke Pulau Padar.

Anak-anak pulau Komodo menjajakan dagangan di pinggir pantai

“Kami sebenarnya tidak setuju Rinca ditutup. Harusnya dibuat jalur khusus wisatawan dan ranger serta jalur proyek. (Pulau) Komodo dan Rinca ini kan sebenarnya milik kita semua. Kalau ditutup kan kita juga yang rugi,” kata salah satu ranger yang minta namanya dirahasiakan.

“Saat pertama kali truk dan taktor itu masuk ke Rinca, kami mengira untuk pasang air. Kami tidak tahu apa itu pembangunan hotel atau Jurrasic Park. Kami sebenarnya ingin protes tapi tidak mungkin juga karena hidup kami juga bergantung dari sini. Jadi tolong kawan-kawan yang peduli ini tetap menyuarakan kegelisahan kami,”

“Kami dengar juga akan dibuat hotel di Pulau Padar. Lokasinya mungkin di sekitar mangrove atau pantai pink long beach,” lanjutnya.

Pulau Padar, akankah menjadi lokasi mega proyek berikutnya?

Sementara itu seorang pedagang di warung kopi pulau Komodo mengatakan, ia senang sekaligus khawatir dengan keberadaan proyek Jurrasic Park ini. “Kami semua yang dagang di sini berasal dari Kampung Komodo. Kalau jalan kaki sekitar satu jam dari sini,”

“Mulai banyak tamu yang datang, terutama setelah pulau Rinca ditutup. Warung sudah buka mulai Agustus lalu tapi tidak banyak tamu yang datang,”

“Kami sudah biasa ketemu komodo. Kalau mereka mendekat ya kita usir gitu saja pakai tongkat atau kayu. Di kampung juga banyak komodo di bawah rumah. Anak-anak juga sudah biasa ada komodo saat bermain di sekitar rumah,”

“Kami tidak tau mau dibangun apa di sini (taman nasional). Katanya sih mau buat hotel. Kami tidak tau, asal tidak bangun hotel di kampung (komodo) saja,” lanjutnya sambil tertawa.

Saya pun bertanya, “Ibu sering lihat pejabat datang ke sini? Atau pernah ketemu presiden?”

“Saya pernah lihat langsung Pak Jokowi. Kalau pejabat atau menteri saya tidak tau nama-nama mereka. Yang pasti akhir-akhir ini banyak pejabat yang datang ke sini,”

Ironi wisata super premium

Tiga anak kecil tampak berlompatan dari atas dermaga dan terjun ke laut. Sesekali mereka naik lagi ke dermaga dan lompat lagi dengan gaya lompat yang berbeda. Mereka tampak gembira, sesederhana itu.

Beberapa anak lainnnya mengikuti saya berjalan di dermaga sambil menawarkan dagangan. Ada patung komodo dari kayu, gelang, dan magnet komodo.

“Kak, dibeli kak, dari tadi pagi belum ada yang beli. Buat beli nasi di kampung kak,” anak-anak ini terus berusaha menawarkan dagangannya.

“Kalau tidak beli tidak apa-apa kak, minta uangnya saja. Dua ribu lima ribu saja kak, buat beli makan,” iba mereka.

Langkah saya terhenti. Dari obrolan singkat, saya jadi tau kalau anak-anak ini asalnya dari kampung komodo, ayah mereka nelayan, ibunya berjualan di warung. Sejak pandemi, jumlah wisatawan turun drastis, demikian pula penghasilan dari warungĀ  di sekitar area wisata pulau Komodo.

Antara sedih mendengar cerita mereka dan berusaha meyakini kalau itu adalah trik marketing, saya lebih tertarik mendengar cerita mereka tentang komodo. Anggapan bahwa orang komodo “hidup berdampingan” dengan reptil raksasa ini pun benar adanya. “Kami sudah biasa main dengan komodo-komodo itu di sini. Kalau masih kecil kami tidak takut, tapi kalau yang besar mendekat kami usir saja dengan kayu,”

Wajah-wajah anak Pulau Komodo

Selama tiga minggu di Flores dan Labuan Bajo, banyak hal baru dan perubahan yang terjadi di area wisata super premium ini. Mulai dari protokol kesehatan hingga kondisi terkini tentang “Jurrasic Park” yang memang sedang viral.

Di balik riuhnya media sosial tentang mega proyek ini, satu hal yang pasti adalah Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Komodo, Labuan Bajo, dan NTT pada umumnya tak akan lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Di beberapa titik mungkim lebih baik, tapi efek sampingnya juga tak bisa dihindari.

Situasi diperburuk dengan pandemi Covid-19 yang membuat industri wisata dan banyak bidang usaha yang berkaitan sempat mati suri, beberapa diantaranya mungkin tak akan mampu bangkit lagi.

Seperti pada tulisan saya sebelumnya di Kompasiana, Pulau Rinca dan Pulau Komodo saat ini seperti Labuan Bajo yang menjadi korban masa transisi menuju destinasi super premium. Dari yang sebelumnya tidak pernah melihat asap truk dan alat berat, kini harus menerima kenyataan eksploitasi sedemikian rupa.

Dan mendengar cerita singkat dari beberapa ranger, pedagang warung kopi, dan anak-anak Pulau Komodo, tak hanya satwa komodo yang harus bertahan hidup menghadapi mega proyek ini. Manusia pun merasakannya.

Bagi kalangan elit, mega proyek ini mungkin sama artinya dengan value yang besar: keuntungan, investasi, dan lain-lain. Tapi bagi sebagian lainnya – terutama warga lokal yang terkena dampaknya secara langsung atau tidak, mega proyek wisata premium ini ibarat buldozer-buldozer yang datang tiba-tiba meratakan kampung halaman mereka.


Artikel ini juga dimuat di Medium dengan judulĀ Pulau Komodo di tengah pandemi dan asap buldozer proyek wisata super premium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *